Ki Hajar Dewantara: Lentera Pendidikan yang Tak Pernah Padam
- Google Picture
NTT ViVa– Di sudut halaman sekolah tua yang rindang, sebuah potret berjubah Jawa dan berkaca mata bulat tergantung tenang di dinding kelas. Ia bukan sekadar gambar, melainkan simbol perjuangan panjang seorang tokoh yang memilih pena ketimbang senjata dalam melawan penjajahan. Dialah Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional Indonesia, yang namanya kini abadi dalam setiap langkah anak negeri menuntut ilmu.
Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, ia terlahir sebagai bangsawan, tapi tak pernah menutup mata terhadap ketimpangan di sekitarnya. Ia menyaksikan bagaimana rakyat jelata kesulitan mengakses pendidikan, sementara kolonialisme Belanda mempersempit jalan anak pribumi untuk belajar. Dari sanalah, semangatnya menyala.
Namun perjuangannya tidak selalu di ruang kelas. Pada 1913, tulisannya yang terkenal, “Seandainya Aku Seorang Belanda” mengguncang pemerintah kolonial. Artikel itu, yang menyindir keras ketidakadilan penjajah, membuatnya diasingkan ke Belanda. Tapi di pengasingan itulah, benih-benih besar pemikirannya tentang pendidikan tumbuh subur.
Sekembalinya ke tanah air, ia mendirikan Taman Siswa pada 1922 — sekolah pertama yang memberi ruang belajar bagi rakyat tanpa memandang kasta. Ki Hajar percaya bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk budi pekerti. Prinsipnya yang kini melegenda, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, menjadi filosofi pendidikan Indonesia: pemimpin harus memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan.
Ki Hajar Dewantara bukan hanya guru, ia adalah pelita yang menerangi jalan jutaan generasi. Dalam kesederhanaan dan ketegasannya, ia memelopori sistem pendidikan nasional yang membebaskan. Ia wafat pada 26 April 1959, tapi nilai-nilai yang ia tanamkan tak pernah ikut terkubur.
Kini, setiap 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai penghormatan atas warisannya. Dan di balik setiap guru yang mengajar dengan hati, dan setiap siswa yang bermimpi tinggi, semangat Ki Hajar Dewantara masih terus hidup — tak padam, tak lekang.