Sebelum Tanah Menutup Mulut Kita

Ilustrasi alam
Sumber :
  • Pexels/Najafi Photos

NTT ViVa– "Tanah tidak pernah berteriak. Ia hanya diam menyimpan luka, menahan racun, menyerap janji-janji palsu. Tapi suatu hari nanti, ketika ia menutup mulut kita dengan debu, baru kita sadar: kita telah membunuh ibu kita sendiri."

img_title Pesan Wakapolres Manggarai: Pengamanan Nataru Kedepankan Kearifan Lokal dan Pelayanan Humanis

Catatan Leluhur Tana Dadi disalin dari daun lontar yang terbakar setengah

Kabut turun perlahan di lembah Jerebu’u, membelai tanah seperti tangan lembut leluhur yang belum usai mengajarkan cinta. Di kejauhan, Gunung Inerie menjulang membisu—seperti dewa tua yang lelah bicara, tapi tak pernah lelah mengawasi. Di bawah bayang-bayangnya, seorang pemuda berdiri, membawa lebih dari rindu. Namanya Arto. Ia pulang bukan membawa ijazah, tapi sebuah sumpah yang lahir dari luka: tanah ini harus hidup kembali.

img_title 5 Kampung Adat Ngada Flores Wajib Kunjung, Ada yang Menyimpan Sejarah 1200 Tahun

Dulu, tanah di bawah kaki Inerie harum oleh kopi, dan ayah Arto—seorang petani yang keras kepala tapi tulus—menyebut tanah sebagai ibu yang memberi, bukan milik untuk dimiliki. "Tanah ini bukan punya kita," katanya di ujung sakit. "Ia lebih tua dari kita dan lebih muda dari cucu kita. Kita cuma singgah. Maka jagalah ia seperti kau menjaga rahim ibumu."

Tapi tanah itu hilang. Tergadai saat harga kopi terpuruk dan pupuk naik lebih cepat dari doa. Ladang mereka kini dipenuhi jagung hibrida—milik Koperasi Merah Putih, bukan milik hidup.

img_title Peluncuran Buku Pendidikan Muatan Lokal Tiga Kabupaten Manggarai untuk SD, SMP, dan SMA: Upaya Merawat Kearifan Lokal

Arto tak membalas dunia dengan amarah. Ia menyewa sebidang tanah di ujung kampung dan menanam bukan hanya benih, tapi harapan. Kalender Tana Dadi ia gunakan—warisan tua yang membaca musim lewat gerak bulan, bukan kalender cetak. Ia menanam di saat wa’u, kala tanah disebut sedang bernapas. Benih yang ia tabur bukan sekadar tumbuh—tapi menyatu: jagung merah, kacang merah, uwi, padi ladang. Semua benih lokal, semua tanpa racun, semua dengan doa.

Suatu malam, dua pemuda dari Lembor datang. Erik menggenggam debu dari tanah Arto, lalu mengembuskannya perlahan.

"Tanah di sini makin pucat," katanya.

Arto mengangguk. "Pupuk kimia memang membuat tanaman cepat besar. Tapi tanah kehilangan napas. Ia tak mati... tapi sekarat."

Halaman Selanjutnya
img_title