Hari Bumi 2025: Kembali ke Bumi, Kembali ke Nurani

Flyer Hari Bumi
Sumber :
  • Canva

NTT ViVa– Pada akhirnya, kita akan kembali ke tanah. Kepada bumi yang menjadi alas pijak, tempat bercocok tanam, tempat kita membangun mimpi dan peradaban. Tapi sebelum itu, mari kita bertanya: apakah kita telah memperlakukannya dengan layak?

img_title Di Tengah Kegamangan Zaman: Ini 10 Masalah Pokok Ekonomi Modern

Hari Bumi 2025 datang dengan gema yang lebih lantang dari sebelumnya. Di tengah ketidakpastian iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan krisis lingkungan yang kian akut, peringatan ini tak lagi sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan moral untuk seluruh umat manusia.

Dan bagi Indonesia—negeri dengan kekayaan hayati luar biasa—pertanyaan tentang masa depan lingkungan bukan hanya soal konservasi, tapi juga soal keberlanjutan kehidupan.

img_title Kasus DP3AKB Matim: Saksi Terus Bertambah hingga 192 Orang, Nama Jefrin Haryanto Belum Masuk Jadwal Pemeriksaan Ulang

Alam yang Terluka

Data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa luas deforestasi Indonesia pada tahun 2024 mencapai 261.575 hektare, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kalimantan mendominasi dengan kehilangan hutan lebih dari 129 ribu hektare. Sebagian besar pembukaan lahan terjadi untuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), perluasan perkebunan sawit, dan pertambangan.

img_title Nutrisi Anak Jadi Kunci Pemulihan Pascabencana, K-24 Grup dan Danone Salurkan 14.000 Bebelac untuk NTT

Di sisi lain, lautan kita tak luput dari luka. Laporan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menunjukkan bahwa pada 2023, sekitar 12,87 juta ton sampah plastik mencemari perairan Indonesia. Ironis, mengingat Indonesia menargetkan pengurangan 70% sampah plastik di laut pada 2025.

Kita adalah negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Namun pantai-pantai kita mulai kehilangan kejernihannya; lautan mulai penuh dengan mikroplastik yang mengancam rantai makanan laut dan kesehatan manusia.

Kearifan yang Tergerus

Masyarakat adat dan komunitas lokal di berbagai penjuru Nusantara sebenarnya telah lama hidup berdampingan dengan alam, menjunjung filosofi hidup yang mengakar pada keseimbangan ekologi. Dalam falsafah masyarakat Dayak dikenal konsep “Tana Ulen”—wilayah larangan yang disucikan untuk menjaga sumber daya. Di Tanah Minang, ada prinsip “alam takambang jadi guru”, yang menempatkan alam sebagai sumber ilmu dan kebijaksanaan. Masyarakat Adat Manggarai di NTT punya ungkapan ‘Neka Poka puar boto mora usang, Neka tapa Satar boto mata kaka’ yang artinya jangan tebang hutan agar hujan tetap turun dan jangan bakar padang Savana agar hewan-hewan tidak punah.

Halaman Selanjutnya
img_title