Brief 7 Poin yang Bakal Mengatur Arah Ekowisata Labuan Bajo Sampai 2030
- Ist
Manggarai Barat, ViVa NTT—Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) bersama Program Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) menyelenggarakan Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan di Ballroom Crowne Plaza Labuan Bajo, Kamis (16/7/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pengembangan ekowisata yang berkualitas, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di Manggarai Barat.
Seminar tersebut dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo. Ia menegaskan bahwa penguatan kelembagaan sektor pariwisata di Manggarai Barat berjalan beriringan dengan transformasi digital, salah satunya melalui aplikasi Gendang Mabar.
“Penguatan kelembagaan pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di bidang kepariwisataan kami iringi dengan transformasi digital. Destinasi berkelas dunia tidak bisa lagi dikelola dengan cara konvensional. Karena itu kami menghadirkan aplikasi Gendang Mabar sebagai single source of truth tata kelola pariwisata yang mengintegrasikan informasi destinasi, reservasi, hingga pembayaran daring dalam satu pintu layanan,” ujar Fransiskus.
Staf Ahli Menteri Bidang Pengembangan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata RI Periode 2020–2026, Frans Teguh, dalam keynote speech memaparkan arah kebijakan nasional pembangunan pariwisata berkelanjutan serta implementasinya di daerah.
“Setiap pilihan wisata yang kita ambil, mulai dari operator yang dipilih, kontribusi konservasi, hingga jejak karbon yang kita kurangi akan menentukan masa depan Labuan Bajo Flores sebagai destinasi yang tetap lestari, berdaya saing, dan menyejahterakan masyarakatnya,” ungkap Frans.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyampaikan harapannya agar seminar ini menghasilkan rekomendasi nyata dalam memperkuat ekowisata di Manggarai Barat.
“Semoga forum ini menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan komitmen bersama yang dapat menjadi pijakan dalam memperkuat pengembangan ekowisata yang berkualitas, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat. Karena pada akhirnya, masa depan Labuan Bajo Flores bukan hanya tentang destinasi yang kita bangun, melainkan tentang warisan yang kita tinggalkan bagi generasi mendatang,” ujar Andhy.
Seminar ini menghadirkan sejumlah pakar dan praktisi nasional, di antaranya Wiratno, M.Sc., IPU (pakar senior konservasi hutan dan manajemen sumber daya); Prof. Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc.F.Trop (Guru Besar Manajemen Ekowisata IPB University).