Ratusan Warga Bertahan di Bukit, 17 Tenda Berdiri Belum Ada Bantuan Apapun

Warga Desa Aeramo Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo masih bertahan di tenda-tenda darurat di bukit Malaruma
Sumber :
  • Sevrin Waja

Nagekeo, NTTVIVA- Sekitar 500 warga terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di kawasan perbukitan. Mereka memilih tidak kembali ke rumah karena khawatir terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

img_title Di Tengah Duka Gempa Manggarai Timur, Emirensiana Berjuang Melawan Kanker Payudara

Pantauan Viva.co.id pada Minggu 16 Agustus pagi, warga yang sejak gempa memilih meninggalkan rumah dan berkumpul di lokasi yang dianggap lebih aman masih bertahan di kawasan perbukitan.

Sedikitnya terdapat 17 camp atau tenda yang menjadi tempat warga berlindung. Dari sekitar 500 warga tersebut, terdapat 38 lansia, tujuh ibu hamil, sembilan bayi, serta 211 anak-anak.

img_title Aktivis Desak Bupati Manggarai Timur Copot Dirut RSUD Borong, Soroti Penanganan Ibu Hamil Korban Gempa

Sebagian warga mendirikan tempat berteduh seadanya menggunakan terpal dan perlengkapan yang mereka bawa dari rumah. Kondisi ini membuat kebutuhan dasar warga menjadi perhatian mendesak.

Warga membutuhkan makanan, air minum, obat-obatan, perlengkapan bayi, terpal, serta kebutuhan dasar lainnya selama berada di lokasi pengungsian.

img_title Menjemput Dokter di Jalan yang Panjang: Catatan perjalanan pelayanan kesehatan pascagempa di Manggarai Timur

Sekretaris Desa Aeramo, Ronaldus Rabu, mengatakan hingga Minggu pagi warga yang bertahan di bukit belum mendapatkan bantuan.

"Dari tadi malam warga yang bertahan di bukit belum ada bantuan apapun dari pihak manapun," ujar Ronaldus Rabu.

Menurut dia, warga masih bertahan dengan persediaan yang terbatas. Ia berharap pemerintah segera menjangkau masyarakat yang memilih bertahan di kawasan perbukitan.

"Harapannya segera ada upaya dari pemerintah untuk bisa menjangkau masyarakat yang masih bertahan di bukit-bukit, yang paling utama pasokan makanan," katanya.

Bagi warga, bertahan di bukit bukan sekadar pilihan, tetapi bentuk kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Dengan jumlah pengungsi mencapai sekitar 500 orang, kebutuhan terhadap makanan dan bantuan dasar lainnya menjadi semakin mendesak. Terlebih, di antara warga yang bertahan terdapat ratusan anak-anak serta kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan bayi.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun ke lokasi untuk memastikan kondisi mereka sekaligus menyalurkan bantuan.

Di tengah ketidakpastian, ratusan warga masih bertahan di bukit, menunggu bantuan dan kepastian bahwa mereka dapat kembali ke rumah dengan aman.