Paus Fransiskus: Sebuah Legasi Cinta dan Perdamaian
- AP/ Alessandra Tarantino
NTT ViVa– Andrea Tornielli, Direktur Editorial Media Vatikan membagikan refleksinya tentang momen pelukan terakhir Paus Fransiskus dari berbagai penjuru dunia dalam Misa Requiem di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Sabtu, 26 April 2025 siang.
Tornielli menulis kisah 20 tahun yang lalu, Paus Yohanes Paulus II meninggal dunia pada tanggal 8 April 2005. Kini, dua dekade kemudian, Paus Fransiskus juga telah meninggal dunia, meninggalkan kesan mendalam bagi ribuan orang yang hadir dalam misa pemakaman di Lapangan Santo Petrus.
Umat Tuhan, yang telah memeluknya pada hari Minggu Paskah, tanpa tahu akan menemaninya lagi di lapangan yang sama mengantarnya pada perjalanan menuju ia dimakamkan di Basilaka Maria Meggiore.
Misa pemakaman Paus Fransiskus dipenuhi dengan semangat dan sentuhan hati. Banyak kepala negara dan pejabat tinggi hadir, serta anak muda yang berencana merayakan Yubelium Remaja. Perwakilan dari denominasi Kristen lain dan berbagai agama juga berkumpul di tangga basilika kepausan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada seorang gembala yang setia pada Injil.
Dalam homilinya, Kardinal Giovanni Battista Re, Ketua Dewan Kardinal yang memimpin misa pemakaman menegaskan bahwa misi Paus Fransiskus adalah "keyakinan bahwa Gereja adalah rumah bagi semua orang; rumah dengan pintu-pintu yang selalu terbuka."
Paus Fransiskus juga dikenal karena seruannya untuk perdamaian dan ajakannya untuk berunding dalam menyelesaikan konflik.
Sebelum misa dimulai, Presiden Amerika Donald Trump dan Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu untuk membahas perdamaian, dan kita berharap bahwa sesuatu yang positif dapat muncul dari kedua tokoh.
Lapangan Santo Petrus ditandai dengan gambar peti mati kayu sederhana dengan kitab Injil terbuka di atasnya, sementara halaman-halamannya perlahan berputar tertiup angin.
Misa pemakaman Paus Fransiskus sangat mengharukan, penuh semangat, dan menyentuh hati. Umat Tuhan, yang telah memeluknya pada hari Minggu Paskah tanpa tahu bahwa itu akan menjadi yang terakhir kalinya, menemaninya pada perjalanan terakhirnya di dunia enam hari kemudian.
Halaman di depan Lapangan Santo Petrus tidak hanya dipenuhi kepala negara dan pejabat tinggi tetapi juga banyak anak muda yang berencana berkunjung untuk merayakan Yubelium Remaja.