Menengok Desa Besowo, Kampung yang Memanusiakan ODGJ
- Mikael Risdiyanto
NTT, VIVA – Orang dengan Gangguan Jiwa atau yang dikenal dengan ODGJ menjadi perhatian pemerintah di berbagai daerah. Tak terkecuali di Desa Besowo, kampung yang terletak di Kecamatan Kepung – Kabupaten Kediri ini memiliki sejumlah warga berkategori ODGJ. Untuk memudahkan memberikan pelayanan kesehatan kepada para ODGJ, maka dinas kesehatan melalui puskesmas setempat membentuk Posyandu Jiwa.
Kepada media ini Sarikun Ketua Kader Posyandu Jiwa mengungkapkan, bahwa posyandu Desa Besowo dirikan pada Bulan Juni tahun 2019, dan disini ada 23 pasien jiwa yang terdaftar. “Mengapa di Besowo ini ada Posyandu Jiwa? Ya awalnya ada keluarga pasien yang kesulitan dan bingung ketika memiliki keluarga yang mengalami ODGJ itu kambuh. Jadi dengan adanya kader posyandu jiwa, keluarga pasien sudah tidak lagi bingung. Nanti lapor ke kita, dan langsung melakukan penangan dengan berkoordinasi dengan puskesmas,” bebernya.
Dikatakan, “Dari 23 pasien ODGJ tersebut sudah banyak yang sembuh meski tidak 100 persen ya sekitar 80 persen. Namun semua itu tetap dalam pantauan kami, selain itu yang sudah agak sembuh mulai agak malu mengikuti kegiatan Posyandu Jiwa, sehingga yang aktif saat ini hanya 10 orang.”
“Disini ada 8 dusun, untuk pasien ODGJ yang terdaftar menyebar di semua dusun. Cuma kebanyakan pasien ODGJ itu berada di Dusun Krajan (Desa Besowo-red), imbuhnya.
Sarikun tampak sabar mengajari para ODGJ dalam membuat sapu lidi
- Mikael Risdiyanto
Menurut Sarikun pelayanan Posyandu Jiwa di Balai Desa Besowo setiap bulannya selalu didampingi pihak Puskesmas Kepung.
“Jadi dari Puskesmas ada perawat dan dokter yang datang, untuk pemeriksaan medis mereka selalu datang. Sedangkan tugas untuk para kader memberikan pelayan non medis, seperti membantu gunting kuku dan rambut pasien menimbang badan pasien ODGJ dan lainnya. Untuk jumlah kader Posyandu Jiwa disini total ada 6 orang, 2 wanita dan 4 pria,” sambungnya.
Disampaikan Sarikun, setiap 2 minggu ia dan para kader posyandu melakukan pantauan obat. “Apakah obat yang kami berikan di setiap kegiatan posyandu itu terminum apa tidak. Setiap 2 minggu kita melakukan kunjungan ke rumah pasien untuk mengontrol,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu Ketua Kader Posyandu kembali menegaskan, untuk urusan medis termasuk pemberian obat dari pihak puskesmas. “Untuk biaya pengobatan para pasien tersebut, sudah dicover oleh pemerintah, termasuk obatnya gratis,” tandasnya.