Pendidikan, Gereja, dan Harapan Baru dari Nagekeo

Fortunatus Hamsah Manah
Sumber :
  • Dok. Pribadi Fortunatus

Opini oleh: Fortunatus Hamsah Manah

img_title Sinyal di Tengah Reruntuhan: Jalan Pulang Penyintas Gempa

VIVA NTT– Membaca reportase Sevrin Waja, jurnalis VIVA NTT berjudul “Dari Nagekeo 10 Ha Buat Dirjen Bimas Katolik dan Penegerian SMAK di Wolosambi”, kita tidak sekadar membaca berita tentang penyerahan lahan dan rencana pembangunan sekolah. Kita sedang membaca potret tentang harapan, ketimpangan, pengorbanan, dan kerinduan masyarakat kecil agar negara benar-benar hadir di pinggiran republik ini.

Di banyak sudut Indonesia Timur, kemiskinan sering kali tidak hadir dalam bentuk statistik semata. Ia hidup dalam wajah anak-anak yang berjalan berkilo-kilometer menuju sekolah. Ia tampak pada guru-guru yang mengajar dengan honor yang nyaris tidak cukup membeli kebutuhan dasar. Ia hadir dalam ruang kelas sederhana yang tetap dipenuhi doa dan harapan meski atapnya bocor dan dindingnya mulai rapuh dimakan usia.

img_title GEMPAR NAGEKEO: Ketika Perlindungan Pekerja Menjadi Gerakan Bersama

Namun di tengah segala keterbatasan itu, masyarakat tetap percaya pada satu hal yaitu pendidikan. Sebab bagi masyarakat kecil di pelosok Flores, sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis. Sekolah adalah jalan sunyi menuju martabat. Jalan panjang menuju kemungkinan hidup yang lebih baik. Dan lebih dari itu, pendidikan adalah jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, ketika Pemerintah Kabupaten Nagekeo menyerahkan lahan 10 hektar kepada Direktorat Jenderal Bimas Katolik untuk pembangunan Sekolah Menengah Agama Katolik Negeri Terpadu, sesungguhnya yang sedang diserahkan bukan hanya sebidang tanah. Yang diserahkan adalah harapan. Harapan agar negara benar-benar hadir di pinggiran. Harapan agar anak-anak desa tidak terus menjadi penonton dalam pembangunan nasional. Harapan agar pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa mereka yang tinggal di kota.

img_title Ketika Sinyal Membuka Jalan Tenun Nagekeo ke Pasar Digital

Di sinilah peristiwa di Nagekeo menjadi penting dibaca secara lebih dalam. Ia bukan sekadar seremoni birokrasi pendidikan. Ia adalah cermin tentang bagaimana negara, gereja, dan masyarakat sedang mencari titik temu untuk menyelamatkan masa depan generasi muda di daerah terpencil.

Pendidikan dan Luka Ketimpangan Indonesia

Selama bertahun-tahun, pembangunan pendidikan Indonesia masih menyisakan jurang ketimpangan yang lebar antara pusat dan daerah pinggiran. Di kota-kota besar, sekolah berlomba menghadirkan laboratorium digital, kelas internasional, dan teknologi pembelajaran modern.

Halaman Selanjutnya
img_title