207 Petani Manggarai Timur Terancam Gagal Panen Akibat Longsor Rusak Irigasi Buntal

Longsor rusak irigasi Buntal
Sumber :
  • Rosis Adir

Manggarai Timur, VIVA NTT–Sebanyak 207 petani di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, terancam gagal panen setelah longsor merusak jaringan Daerah Irigasi (DI) Buntal yang menjadi sumber pengairan utama lahan pertanian di wilayah tersebut. Bencana longsor yang terjadi pada 19 Mei 2026 itu menimbun saluran irigasi sepanjang sekitar 500 meter dan menyebabkan sejumlah bagian saluran patah di beberapa titik.

img_title Longsor Berulang Hantui Manggarai Timur, Kapolres Ungkap Koordinasi Lapangan yang Belum Maksimal

Hujan berintensitas tinggi memicu longsor yang menimbun saluran irigasi DI Buntal di Kecamatan Elar. Material tanah tidak hanya menutup badan saluran sepanjang 500 meter, tetapi juga menyebabkan patahan pada saluran sepanjang sekitar 30 meter di beberapa lokasi, termasuk di kawasan Marolante dan Rawe.

Kerusakan tersebut mengganggu distribusi air ke areal persawahan di Desa Golo Lijun dan Desa Persiapan Nanga Buntal yang selama ini bergantung pada jaringan irigasi tersebut. Pemerintah mencatat sedikitnya 207 pemanfaat irigasi di wilayah Marolante, Translok, Sambi Giri, dan Bawe kehilangan akses terhadap pasokan air dari DI Buntal.

img_title Petani di Sikka Tewas akibat Serangan Babi Hutan Saat Berburu Sendirian

Longsor rusak irigasi Buntal

Photo :
  • Rosis Adir

Potensi Kerugian Rp4,9 Miliar

img_title PDIP Perkuat Ketahanan Pangan, Gagasan Megawati Hidup di Kebun Petani Gen Z Nagekeo

Data Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Manggarai Timur menunjukkan luas lahan yang terdampak mencapai 163,5 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 hektare merupakan lahan yang sudah ditanami, sedangkan 133,5 hektare lainnya belum sempat ditanami akibat irigasi rusak.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur memperkirakan potensi kerugian akibat terganggunya produksi pertanian mencapai sekitar Rp4,9 miliar. Perhitungan tersebut didasarkan pada luas lahan terdampak, asumsi produksi rata-rata enam ton gabah per hektare, dan harga gabah sebesar Rp5.000 per kilogram.

"Saluran irigasi mengalami kerusakan berat sepanjang 500 meter akibat tertimbun material tanah longsor," tulis Kepala Dinas PUPR Manggarai Timur, Ferdinandus Mbembok dalam laporan tertanggal 3 Juni 2026 yang salinannya diterima ViVa NTT, Kamis, 11 Juni 2026.

Dalam surat yang dikirim kepada Bupati Manggarai Timur pada 29 Mei 2026, Kepala Desa Golo Lijun, Yovita Mbaju, meminta bantuan perbaikan karena irigasi tersebut merupakan kebutuhan utama masyarakat dalam mengelola lahan pertanian.

“Akibat kerusakan tersebut masyarakat terancam gagal panen dan kelaparan,” tulis Yovita dalam surat tersebut.

Respons Pemerintah dan Upaya Warga

Halaman Selanjutnya
img_title