Puluhan KK Tinggal di Rumah Reot, Rp67 Miliar Anggaran Nagekeo Malah Tak Terserap

Kondisi rumah warga Nagekeo, Nusa Tenggara Timur
Sumber :
  • Sevrin Waja

Nagekeo, NTTVIVA- Di tengah masih banyaknya warga yang tinggal di rumah tidak layak huni, Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) justru tidak mampu mengeksekusi anggaran hingga Rp67 miliar pada tahun anggaran 2025. Kondisi ini memunculkan ironi di tengah kebutuhan mendesak masyarakat akan perumahan layak dan layanan dasar lainnya.

img_title Pendidikan Berkualitas Berdiri di Atas Fondasi Moral

Salah satu potret itu terlihat dari kehidupan pasangan suami istri Vinsensius Doko dan Elisabeth bersama dua anak mereka yang tinggal di sebuah rumah reot di Dusun Makipaket, Kelurahan Mbay 2, Kecamatan Aesesa. Bangunan sederhana yang mereka tempati lebih menyerupai kandang ayam daripada rumah tinggal. 

"Dulu tinggal sama-sama dengan Bapa Mama tapi semenjak ada anak mau mandiri tinggal di sini, ini rumah peninggalan nenek, sebelum nenek meninggal minta kami kalau mau bangun rumah sendiri di sini" ujar Vinsen saat disambangi NTTVIVA di kediamannya, Jumat 12 Juni 2026.

img_title Nagekeo Bentuk Satgas Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender

Rumah panggung seukuran kurang lebih 4x6 meter itu kondisinya sangat memprihatinkan. Tiang penyangga terlihat miring, sebagian dinding mulai terlepas, sementara rangka atap tampak tidak lagi kokoh menahan terpaan cuaca. 

Dindingnya terbuat anyaman tangkai lontar yang sebagian besar tampak sudah lapuk, sementara atapnya masih menggunakan daun-daunan gebang yang kering dan mulai berlubang di banyak bagian. "Ya kalau cemas memang cemas apalagi pas musim angin soalnya biasanya di sini sering terjadi angin puting beliung" ujar Elisabeth sang isteri.

img_title Warga Aesesa Selatan Rebutan Air dengan Ternak, Di Mana Peran Kristian Garo?

Setiap kali hujan turun, air dengan mudah menembus atap dan membasahi hampir seluruh ruangan rumah. Keluarga kecil itu kerap memindahkan tikar dan barang-barang seadanya untuk menghindari tetesan air yang masuk dari berbagai sudut. Pada malam hari, mereka harus tidur dalam kondisi lembab dan dingin.

Sang suami hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk menghidupi keluarganya. Penghasilannya tidak menentu, bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan yang bisa dikerjakan setiap hari. "Kerja sembarang, kadang ikut orang sewa kerja sawah, kalau tidak ya pergi melaut, cari madu, pokoknya kerja apa saja yang bisa menghasilkan uang" ujar Vinsensius.

Mirisnya di tengah leterbatasan itu, keluarga muda ini tidak pernah tersentuh bantuan apapun dari pemerintah setempat termasuk program rehabilitasi rumah layak huni.

Halaman Selanjutnya
img_title