Kepala Dinkes Manggarai Timur: Kesehatan Mental Kian Mengkhawatirkan
- Ist
Manggarai Timur, VIVA NTT–Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur, dr. Surip Tintin, mengatakan kondisi kesehatan mental masyarakat di daerah itu semakin mengkhawatirkan, ditandai dengan meningkatnya kasus bunuh diri dan masih terbatasnya layanan kesehatan jiwa.
Pernyataan itu disampaikan di tengah perhatian publik terhadap kasus kematian seorang ayah dan anak laki-lakinya berusia tujuh tahun di kabupaten itu yang saat ini masih diselidiki Polres Manggarai Timur.
Menurut Surip, kenaikan kasus bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan masih banyak tekanan kejiwaan yang tidak terdeteksi maupun tertangani secara memadai.
"Kenaikan kasus bunuh diri sebagai manifestasi tekanan kejiwaan yang tidak tertangani," kata Surip kepada ViVa NTT pada Jumat malam, 12 Juni 2026.
Data Dinas Kesehatan Manggarai Timur menunjukkan saat ini terdapat 802 orang dengan gangguan jiwa berat yang berada dalam penanganan layanan kesehatan. Dari jumlah tersebut, 51 orang masih hidup dalam kondisi dipasung.
Surip mengatakan tidak semua penderita dapat memperoleh pengobatan secara optimal karena sebagian tidak memiliki keluarga yang dapat mendampingi proses perawatan.
Selain persoalan gangguan jiwa berat, Surip menilai layanan bagi warga yang mengalami stres, depresi, kecemasan, maupun persoalan psikologis lainnya juga masih jauh dari memadai.
Menurut dia, hingga saat ini belum tersedia psikolog klinis baik di puskesmas maupun di rumah sakit daerah.
"Masalah gangguan jiwa ringan atau stres dan masalah psikologis belum tertangani dengan baik karena di puskesmas maupun rumah sakit belum ada psikolog klinik," katanya.
Keterbatasan tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat kasus bunuh diri masih terus terjadi di Manggarai Timur.
Data Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KB P3A) Manggarai Timur mencatat tiga kasus bunuh diri pada 2018, satu kasus pada 2019, sembilan kasus pada 2020, sebelas kasus pada 2021, dan tujuh kasus pada 2022.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik menunjukkan sedikitnya 13 desa di Manggarai Timur menjadi lokasi terjadinya kasus bunuh diri pada 2024.
Persoalan kesehatan mental kembali menjadi sorotan setelah kasus kematian seorang ayah dan anak berusia tujuh tahun pada Kamis sore, 11 Juni 2026.