Harganas ke-33: Keluarga Terdepan Pertahanan Bangsa

Harganas ke-33 Provinsi NTT
Sumber :
  • Ist

Kupang, VIVA NTT– Di era gawai yang bisa menggantikan pelukan, Hari Keluarga Nasional ke-33 hadir sebagai kontrak moral antara orang tua dan masa depan bangsa.

img_title Literasi dan Rumah Peradaban Menuju Indonesia Emas

Dan persiapan itu, menurut Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN H. Wihaji, tidak dimulai dari bangku sekolah. Semuanya berawal dari rahim ibu dan pengasuhan keluarga.

Dalam pesan yang dibacakan pada peringatan Harganas ke-33, Wihaji menggambarkan kondisi dunia saat ini sebagai lanskap VUCA: Volatility (gejolak), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kerumitan), dan Ambiguity (kebingungan arah).

img_title Dubes Australia Tinjau Pusdalops NTT, Soroti Ketangguhan Warga Pascabencana Seroja dan Lewotobi

Disrupsi teknologi digital merangsek masuk ke ruang keluarga tanpa diundang. Jika institusi keluarga rapuh, arus zaman itu akan dengan mudah menggilas masa depan anak-anak.

Untuk mengkapitalisasi bonus demografi, ada tiga pilar pembangunan keluarga yang harus diperkuat. Pertama, kesehatan  menuntaskan stunting dengan memastikan gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi gerakan di setiap dapur keluarga. Kedua, pendidikan karakter menjadikan rumah sebagai madrasah abad ke-21, tempat integritas, kejujuran, dan kedisiplinan ditanamkan. Ketiga, ketahanan mental  menjadi pelabuhan emosional yang stabil agar anak tumbuh resilien dan tidak mudah menyerah.

img_title Universitas Jember Buka Peluang Kerja Sama Kelembagaan dengan Nagekeo

Harganas ke-33 tahun ini secara khusus menekankan peran ayah dalam pengasuhan. Wihaji memperingatkan bahaya "fatherless country" bukan karena ayah pergi, tapi karena ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis. Kekosongan itu, katanya, kerap diisi oleh musuh di dalam rumah sendiri: gawai.

"Letakkan gawai Anda, peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog, dan batasi screen time mereka," serunya kepada seluruh ayah di Indonesia.

Tawuran, bullying, narkoba  bagi Wihaji, itu bukan sekadar krisis jalanan. Itu alarm darurat bahwa keluarga sedang malafungsi. Anak-anak yang terjerumus kekerasan atau narkoba, tegasnya, sering kali adalah mereka yang kekurangan kasih sayang di rumah, lalu mencari pelarian semu di jalanan. "Tangkal semua ancaman ini dari dalam rumah kita sendiri. Jangan tunggu sampai anak kita menjadi korban atau pelaku," imbaunya.

Wihaji menutup pesannya dengan mengajak seluruh keluarga memperbarui paradigma: keluarga bukan sekadar unit terkecil masyarakat, melainkan hulu dari segala kebijakan publik dan penentu arah pembangunan nasional. Kemajuan ekonomi dan infrastruktur megah, tegasnya, tak akan bermakna tanpa SDM yang bermoral dan bermental baja. "Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan, sehingga ke mana pun anak melangkah, kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka pulang ke jalan yang benar."

Halaman Selanjutnya
img_title