Galian Cadas Tak Berizin Jadi Material Proyek Jalan Rp14,5 Miliar di Manggarai Timur
- Rosis Adir
Manggarai Timur, VIVA NTT–Lereng Golo Watu Pasat di Lonto Ulu, Desa Compang Laho, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, kini menyisakan bekas kerukan alat berat yang membentuk tebing curam.
Tanah merah kecoklatan dan bongkahan batu berserakan, sementara jalan umum dan rumah warga berdiri tak jauh dari kaki lereng yang mulai terbuka akibat penggalian.
Saat ViVa NTT menyambangi lokasi pada Minggu, 5 Juli 2026, tidak ada aktivitas alat berat. Namun tumpukan pasir dan batu masih menumpuk di beberapa titik, menunggu diangkut truk ke lokasi proyek peningkatan Jalan Watu Cie-Deno, proyek infrastruktur senilai Rp14,5 miliar yang tengah dikerjakan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur tahun ini, terbagi dalam dua segmen: satu kilometer di Desa Lento dan empat kilometer di ruas Deno-Tanggar, Desa Compang Laho.
Penelusuran ViVa NTT di sepanjang ruas Deno-Tanggar menemukan material berwarna merah kecoklatan yang telah dihampar sebagai lapisan dasar sebelum pengaspalan. Di salah satu titik, sekitar 20 meter badan jalan bahkan menggunakan material cadas hasil kerukan tebing temuan yang membuat seorang warga yang melintas berhenti dan meminta didokumentasikan. Ia mempertanyakan kelayakan penggunaan cadas untuk pengerasan jalan yang sudah lama dinantikan warga.
Proyek ini digarap CV Odilia yang berbasis di Borong, meski di lapangan pelaksananya adalah Nining, kontraktor lokal asal Lamba Leda Selatan. Jalan tersebut sebelumnya rusak parah dan menghambat mobilitas warga di beberapa desa Lamba Leda Selatan, sehingga pengerjaannya mendapat perhatian besar.
Warga Minta Bukti, Tak Kunjung Diberi
Salah seorang warga Compang Laho, disebut dengan inisial V, mengaku khawatir material dari Watu Pasat tak memenuhi spesifikasi untuk jalan hotmix. Menurutnya, warga berulang kali menanyakan asal material kepada pekerja proyek, dan jawaban yang diterima selalu seragam: material sudah diuji laboratorium dan retribusinya sudah dibayarkan ke pemerintah daerah. Namun klaim itu, kata V, tak pernah disertai dokumen pendukung.
"Kalau memang sudah diuji dan semuanya sesuai aturan, mestinya tidak ada masalah kalau ditunjukkan," ujarnya.
Selain soal mutu jalan, warga juga cemas dampak penggalian berskala besar terhadap kestabilan lereng, mengingat jalan umum, sawah, dan permukiman berada persis di bawahnya.