Uskup Agung Ende Resmikan Biara LSMI, Rumah Novisiat Pertama di Indonesia

Uskup Agung Ende Mgr.Paulus Budi Kleden, SVD, meresmikan rumah biar St. Imakulata di Stasi Penginanga, Paroki Stella Maris Danga, Nagekeo
Sumber :
  • Sevrin Waja

Nagekeo, NTTVIVA- Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden meresmikan Biara dan Rumah Novisiat Little Servants of Mary Immaculate (LSMI) atau ordo Santa Imakulata di Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis 9 Juli 2026.

img_title Tanggapi Pernyataan dari Berbagai Pihak, PT SGI Berkomitmen Menyediakan Pasokan Listrik Ramah Lingkungan

Biara tersebut menjadi rumah novisiat sekaligus komunitas LSMI pertama di Indonesia. Peresmian diawali dengan perayaan Ekaristi dan pemberkatan Kapela Santa Imakulata milik Biara LSMI, yang dihadiri puluhan suster dari beberapa ordo, para imam, umat Katolik Stasi Penginanga, tokoh masyarakat dan tokoh adat Lape, serta Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Muga Sada.

Dalam homilinya, Uskup Mgr. Paulus Budi Kleden mengatakan kehadiran para suster LSMI telah diterima dengan baik oleh masyarakat dan lingkungan sekitar, begitupun sebaliknya, umat menerima kehadiran biara LSMI dengan tangan terbuka. 

img_title Walhi Dukung Sikap Uskup Agung Ende Tolak Proyek Geothermal

Menurutnya, hal itu sejalan dengan pesan Yesus dalam bacaan Injil yang mengajarkan para murid untuk tinggal di tempat yang menerima kehadiran mereka. "Para suster sudah diterima oleh lingkungan dan masyarakat sekitar sebagaimana pesan Yesus, jika salammu diterima, tinggallah di situ," ujar Uskup Budi.

Uskup juga mengapresiasi karya misioner para suster LSMI yang didampingi Pater Thadeus Gruca, SVD salah satu misionaris asal Polandia yang berkarya di Paroki Raja, Nagekeo. Ia menyinggung asal-usul kongregasi LSMI yang didirikan di Polandia dan mengaitkannya dengan pengalaman saat menghadiri misa bersama Vikaris Jenderal dari Chicago di Ende. 

img_title JPIC Indonesia Mendukung Pernyataan Uskup Agung Ende Tolak Proyek Geothermal di Flores

Ia bercerita, saat itu anak-anak sekolah dasar membuat gerakan mengepalkan dua tangan sambil menirukan selebrasi pesepak bola Polandia, Robert Lewandowski. "Itu menunjukkan sebuah konotasi. Akan tetapi, apa yang kita rayakan hari ini lebih dari sekadar konotasi. Kita hadir di kapela ini bukan hanya simbol, tetapi kita sungguh mengalami kehadiran Tuhan," katanya.

Menurut Uskup Budi, rumah biara bukan sekadar bangunan fisik atau simbol keagamaan, melainkan tempat Allah sendiri hadir di tengah umat. Mengacu pada bacaan liturgi hari itu, Uskup Budi menyampaikan tiga pesan utama yang harus menjadi pegangan komunitas biara maupun setiap keluarga beriman. 

Halaman Selanjutnya
img_title