Bambu Manggarai Barat Tembus Polandia, YBLL Ekspor 15 Ribu Batang
- Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT
Manggarai Barat, NTT ViVa– Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat telah mengekspor sekitar 15 ribu batang bambu ke Polandia untuk pembangunan rumah khas Nusa Tenggara Timur (NTT).
Project Officer YBLL, Septiani Solfriyansi Maro, menjelaskan bahwa bambu asal Manggarai Barat kini telah menembus pasar internasional melalui ekspor ke Polandia.
“Sebanyak kurang lebih 15 ribu batang bambu telah kami kirim ke Polandia untuk pembangunan rumah khas NTT. Sebelum diekspor, bambu diawetkan terlebih dahulu di Manggarai Barat, kemudian dikirim ke Bali untuk menjalani proses karantina sebelum diberangkatkan ke Polandia. Setelah tiba di sana, bambu kembali mendapatkan treatment sesuai standar negara tujuan,” jelas Septiani, Selasa, 21 Juli 2026.
Selain pasar ekspor, YBLL juga melayani berbagai permintaan dari dalam negeri, mulai dari sektor perhotelan, PT Haldin, hingga Pamudi Luhur Jakarta yang memesan aneka produk furnitur berbahan bambu. Septiani menyebut omzet usaha yang dikelolanya kini hampir mencapai Rp600 juta.
Bambu yang digunakan berasal dari desa-desa di Manggarai Barat dan dibeli langsung dari masyarakat, sehingga turut memberi nilai tambah bagi ekonomi warga setempat. Sebelum diolah, bambu disortir lalu dipotong sesuai kebutuhan dengan panjang sekitar 2,6 meter. Untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku, YBLL juga mengembangkan budidaya bambu melalui sistem HBL dengan usia panen ideal di atas tiga hingga lima tahun.
Menurut Septiani, bambu Manggarai Barat memiliki karakteristik berbeda dibanding daerah lain. Jika bambu asal Bajawa memiliki kadar air lebih tinggi, bambu Manggarai Barat cenderung berdiameter lebih kecil namun berdinding lebih tebal, sehingga cocok untuk kebutuhan konstruksi maupun furnitur. Dalam proses produksinya, bambu dikeringkan dan diawetkan agar memiliki daya tahan tinggi—tiang bambu dapat bertahan hingga 10 tahun dengan perawatan berkala, sementara atap bambu atau pelupuh mampu bertahan sekitar lima tahun dengan perawatan rutin setiap tahun.
“Kuncinya adalah perawatan atau maintenance,” ujar Septiani.
Produk YBLL memiliki ketebalan mulai dari 3 milimeter hingga 25 milimeter dengan lebar 28 sentimeter dan panjang 2,4 meter. Untuk papan bambu dengan ketebalan 25 milimeter, harganya mencapai sekitar Rp460 ribu per lembar. Ketahanan produk terhadap air, menurut Septiani, turut dipengaruhi oleh kualitas perekat yang digunakan.