Ketika Ruteng Siap, tapi Kita Belum Siap Sepenuhnya: Evaluasi Kongres XXXIV-MPA XXXIII PMKRI
- Ist
Oleh: Ferdy Robin Dana
Terima kasih untuk Manggarai
ViVa NTT– Pemerintah Kabupaten, Keuskupan Ruteng, dan masyarakat sudah menyiapkan segalanya dengan hati. Penerimaan adat, tempat, hingga Bupati Manggarai yang membuka acara adalah bentuk cinta dan hormat kepada PMKRI.
Tapi cinta harus dijawab dengan kesungguhan. Dan di sinilah PR besar kita.
1. Soal Kehadiran dan Gaung Nasional
SC MPA sebelumnya mencatat 80 cabang terkonfirmasi hadir dari 88 cabang. Kami mendengar di lapangan jumlah yang hadir hingga pleno hanya sekitar 57 cabang.
Jika benar, ini harus jadi evaluasi serius. Forum tertinggi PMKRI tidak boleh kehilangan legitimasi karena kekosongan.
Lebih dari itu, di mana wajah negara?
Jika jauh-jauh hari dikonfirmasi Menteri AHY berhalangan, harusnya Gubernur NTT bisa hadir.
Jika kita serius menggerakkan jaringan alumni yang dekat dengan Wapres, kehadiran beliau bukan mustahil.
Pertanyaannya: Berapa Menteri yang hadir? Berapa pengambil kebijakan yang kita undang?
Padahal ini momen emas membawa suara 3T ke meja pusat.
2. Soal “Membalas” Kebaikan Tuan Rumah
Gereja Keuskupan Ruteng sudah mendukung penuh. Pemkab Manggarai sudah berkorban APBD dan tenaga.
Lalu apa yang kita “balas”? Hanya forum internal?
Padahal dengan menghadirkan pejabat negara, kita bisa sekalian memperjuangkan infrastruktur, pendidikan, dan keadilan ekologis untuk Manggarai.
3. Soal Fokus Kepemimpinan
Kami khawatir energi besar PP lebih habis untuk urusan suksesi 2026–2028, daripada memastikan forum ini wibawa di mata publik.
PMKRI bukan panggung manuver. PMKRI adalah kawah perjuangan.
Penutup
Ruteng sudah memberi yang terbaik. Sekarang giliran kita.
Benahi konsolidasi. Maksimalkan jaringan. Hadirkan negara saat kita kembali ke daerah.
Jangan sampai pengorbanan Manggarai hanya jadi kenangan, bukan jadi rekomendasi kebijakan.
Untuk PMKRI yang dewasa.
Untuk Ruteng yang layak kita banggakan.
Pro Ecclesia et Patria