Diduga Bocor Saat Pengangkatan KM Kuala Emas, Tumpahan Minyak Cemari Pesisir Semau
- Polda NTT
Kupang, NTT ViVa— Perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tercemar tumpahan minyak yang diduga berasal dari proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas.
Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda NTT langsung menerjunkan tim untuk memantau perkembangan sekaligus mengoordinasikan langkah penanganan bersama sejumlah instansi terkait.
Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, menuturkan bahwa personelnya diterjunkan begitu menerima laporan dugaan pencemaran di wilayah pesisir Semau.
Tim yang diturunkan bertugas melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) untuk memastikan sumber kejadian, dampak yang ditimbulkan, hingga langkah penanganan yang mendesak untuk dilakukan.
"Begitu menerima informasi terkait dugaan pencemaran laut, personel Ditpolairud langsung melakukan pengecekan dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan sumber kejadian, dampak yang ditimbulkan, serta langkah-langkah penanganan yang harus segera dilakukan," ujar Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, dikutip Sabtu, 1 Agustus 2026.
Hasil pulbaket sementara menunjukkan tumpahan minyak telah mencemari sejumlah wilayah pesisir di Kecamatan Semau. Setidaknya sembilan desa terdampak, yakni Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, dan Batuinan.
Kronologi Kebocoran saat Pemotongan Lambung Kapal
Pencemaran ini bermula dari proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas yang dikerjakan oleh konsorsium pelaksana pekerjaan bawah air menggunakan Crane Barge Hong Bang 6. Sebelumnya, sejumlah bagian kapal sempat dipotong tanpa ditemukan tanda-tanda kebocoran.
Situasi berubah pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA. Saat proses pemotongan menyasar bagian lambung kiri kapal, tepatnya di area antara Palka 2 dan Palka 3, terjadi kebocoran yang memicu keluarnya minyak yang diduga merupakan Marine Fuel Oil (MFO).
Pihak kontraktor menyebut titik kebocoran berada di luar perkiraan teknis, sebab area yang dipotong semula diyakini merupakan tangki balas kapal yang tidak dilintasi jalur bahan bakar.
Empat Perahu Dikerahkan, Lima Ton Minyak Diamankan
Begitu insiden terjadi, pihak pelaksana proyek bersama instansi terkait segera mengambil sejumlah langkah mitigasi guna mencegah pencemaran meluas.
"Prioritas utama saat ini adalah mengendalikan dan membersihkan tumpahan minyak agar tidak berdampak lebih jauh terhadap lingkungan laut, aktivitas masyarakat pesisir, maupun ekosistem yang ada di wilayah Semau," jelas Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution.