Dirawat karena Depresi Buntut Ujian Dibatalkan 12 Kali oleh Dosen yang Sama, Kondisi Jessica Tunardjo Membaik
- Instagram @kabarmahasiswa.id
Kupang, NTT ViVa— Sebuah video viral di media sosial, salah satunya diunggah akun Instagram @kabarmahasiswa.id, memperlihatkan Jessica Sofia Tunardjo tergeletak sambil menangis histeris.
Mahasiswi semester 10 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) itu diduga mengalami depresi setelah ujiannya batal digelar hingga 12 kali, dengan dosen penguji yang sama berulang kali membatalkannya secara tiba-tiba tepat pada hari ujian dilaksanakan. Kondisi itu berujung pada perawatan Jessica di Rumah Sakit Wirasakti Kupang.
Masalah ini membuat Undana harus turun tangan menginvestigasi, sementara Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma langsung menjenguk kondisi kesehatan Jessica, Senin, 3 Agustus 2026.
Usai menjenguk, Johni Asadoma menyampaikan bahwa kondisi Jessica menunjukkan perkembangan positif, baik secara fisik maupun psikis.
“Tadi saya menjenguk kondisi anak kita, Jessica. Kondisinya sudah semakin baik, semakin ceria, dan semakin sehat. Saya yakin dalam waktu dekat sudah 100% sehat. Secara fisik maupun psikis saya melihat sudah ada kemajuan,” ujar Wagub Johni.
Meski begitu, ia mengingatkan agar publik tidak buru-buru menyimpulkan siapa yang benar dan salah, mengingat baru satu sisi cerita yang terungkap ke permukaan.
“Tadi saya mendengar cerita versi dari Jessica, dan kita tidak tahu bagaimana versi dari dosennya. Sehingga kita perlu bijak memandang dan menyikapi kondisi ini,” ungkapnya.
Undana: Masih Investigasi, Tak Tolerir Kekerasan di Kampus
Wakil Rektor IV Undana, Prof. Philipi de Rozari, memastikan Jessica Sofia merupakan mahasiswa aktif Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat.
“Mahasiswa atas nama Jessica Sofia memang merupakan mahasiswa aktif Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat,” ungkap Prof. Philipi dalam konferensi pers di Undana, Kamis (30/7/2026).
Namun ia menegaskan pihak kampus masih mendalami duduk perkara sesungguhnya di balik berulangnya pembatalan ujian tersebut.
“Kami masih dalam proses investigasi terkait kejadian tersebut,” ujarnya.
Philipi menyebut kasus ini menjadi bahan evaluasi bagi Undana agar peristiwa serupa tidak terulang. Ia membuka kemungkinan sanksi bagi dosen apabila terbukti ada pelanggaran.
“Pada prinsipnya, Undana tidak mentoleransi adanya kekerasan dalam bentuk apa pun yang terjadi di lingkungan kampus,” tegas Philipi.