BGN Prioritaskan MBG di Daerah Stunting Tinggi Termasuk Manggarai Timur tapi Masih Terkendala Dapur

Ilustrasi dapur SPPG dan anak stunting
Sumber :
  • Ist

Manggarai Timur, NTT ViVa– Kabupaten Manggarai Timur berpeluang menjadi salah satu daerah yang diprioritaskan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan akan memfokuskan program tersebut ke wilayah dengan angka stunting tinggi. Namun, peluang itu dibayangi persoalan di lapangan: sebagian besar dapur MBG di daerah ini hingga kini belum beroperasi.

img_title Tim BGN Manggarai Timur Tempuh Medan Sulit, Antar Bantuan Sembako ke Penyintas Gempa di Elar

Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan pemerintah tengah menyusun prioritas pelaksanaan MBG berdasarkan tingkat prevalensi stunting di setiap daerah.

"Kami akan melihat daerah-daerah dengan prevalensi stunting yang tinggi. Itu yang akan kami prioritaskan," kata Sudaryono dalam siaran pers Badan Gizi Nasional yang dirilis situs bgn.go.id.

img_title BGN Bergerak Bantu Korban Gempa Manggarai, SPPG Salurkan Pangan hingga ke Posko Pengungsian

Menurut dia, BGN sedang menyinkronkan data bersama Kementerian Kesehatan agar pelaksanaan MBG benar-benar menyasar wilayah yang paling membutuhkan.

"Jadi bukan hanya berdasarkan daerah 3T, tetapi juga melihat data stunting agar program ini benar-benar menyasar masyarakat yang paling membutuhkan," ujarnya.

img_title BGN Terus Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa Manggarai Timur

Kebijakan tersebut berpeluang memberi perhatian lebih kepada Manggarai Timur. Meski prevalensi stunting dilaporkan menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya, angkanya masih berada di kisaran 38,8 persen berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

Di sisi lain, pelaksanaan MBG di Manggarai Timur belum berjalan optimal. Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang telah disiapkan belum seluruhnya beroperasi karena masih menghadapi kendala administrasi dan pemenuhan persyaratan operasional. Akibatnya, cakupan penerima manfaat program masih terbatas dan hanya terpusat di Borong, ibukota Manggarai Timur.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Manggarai Timur juga mengingatkan bahwa keberhasilan MBG dalam menekan angka stunting akan bergantung pada ketepatan sasaran. 

Menurut Kepala Dinas dr. Surip Tintin, intervensi gizi perlu menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang berisiko stunting, bukan hanya peserta didik.

Padahal, kata dia, pemicu tingginya stunting karena masih banyak ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK), kondisi malnutrisi akibat kurangnya asupan energi dan protein dalam jangka waktu lama.

Di Manggarai Timur jumlah ibu hamil KEK pada 2025 sebanyak 1.193, sementara per Juni 2026 mencapai 261. 

Halaman Selanjutnya
img_title