Komunitas Pulih Ruteng Ajari Remaja Cara Selamatkan Teman yang "Terluka" Secara Psikologis

Psikoedukasi PFA di SMAS St. Fransiskus Xaverius Ruteng bersama Komunitas Pulih Ruteng
Sumber :
  • Ist

Manggarai, NTT ViVa— Di dalam salah satu ruang kelas SMAS St. Fransiskus Xaverius Ruteng, puluhan siswa hadir dalam sebuah perbincangan yang jarang disampaikan secara terbuka: tentang luka yang tak kasat mata, tentang beban yang dipikul sendiri oleh banyak remaja tanpa kata.

img_title Himpaudi NTT Kunjungi Guru PAUD Korban Gempa Manggarai Timur, Kondisi Dilaporkan ke Pusat

Itu disampaikan dalam kegiatan psikoedukasi kesehatan mental dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis atau Psychological First Aid (PFA) yang digelar Komunitas Pulih Ruteng, Jumat, 7 Agustus 2026.

Komunitas Pulih Ruteng hadir untuk mengetuk pintu yang selama ini kerap tertutup rapat oleh rasa malu dan stigma.

img_title 375 Sekolah Terdampak Gempa di Manggarai Timur, Siswa Masih Belajar di Bawah Terpal

Bagi Apolinaria Putri P. Bilo, psikolog yang juga Penanggung Jawab Komunitas Pulih Ruteng, masa remaja adalah persimpangan yang penuh gejolak: fisik yang berubah, emosi yang naik-turun, relasi yang diuji, dan tekanan yang datang dari segala arah, dari rumah, dari sekolah, dari lingkaran pertemanan yang kadang justru melukai.

Sekolah dipilih bukan tanpa alasan. Di sanalah remaja menghabiskan sebagian besar waktunya, bukan hanya belajar rumus dan teori, tapi juga menemukan siapa dirinya, bergesekan dengan konflik, dan menanggung tekanan yang tak selalu terlihat oleh mata orang dewasa.

img_title dr. Benny C. Sihombing Mundur dari RSUD Ruteng usai Komentar Nirempati ke Pasien BPJS Yurizal yang Telah Meninggal Dunia

Maka sekolah, kata Apolinaria, adalah ruang yang paling dekat untuk menabur benih pemahaman: bahwa berbicara soal kesehatan mental bukanlah aib, dan meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan.

"Sekolah dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dianggap ruang paling dekat dengan kehidupan remaja sehari-hari, tempat mereka membangun relasi sosial sekaligus menghadapi berbagai tekanan," ujar Apolinaria dalam paparannya.

Ia menjelaskan, kegiatan PFA tidak hanya memberikan pengetahuan dasar mengenai kesehatan mental, tetapi juga mengajak siswa memahami pentingnya mengenali kondisi diri, mengelola emosi, dan mengetahui kapan harus mencari dukungan dari orang lain. 

Psikoedukasi PFA di SMAS St. Fransiskus Xaverius Ruteng bersama Komunitas Pulih Ruteng

Photo :
  • Dok. Komunitas Pulih Ruteng

Siswa Tak Dilatih Jadi Psikolog, Tapi Diajari Cara Selamatkan Teman

Yang menarik, meski turut membawakan materi PFA, para siswa sama sekali tidak dilatih untuk menjadi psikolog dadakan bagi teman-temannya, melainkan membekali mereka agar mampu hadir, mendengarkan, menjaga privasi, dan menghubungkan teman yang membutuhkan bantuan dengan layanan yang tepat.

Halaman Selanjutnya
img_title