Terlapor Kasus Dugaan Pengeroyokan di Desa Rana Mese, Manggarai Timur, Minta Berdamai, Korban Menolak
- Rosis Adir
Manggarai Timur, NTT ViVa–Para terlapor kasus dugaan pengeroyokan di Manggarai Timur yang kasusnya telah bergulir di kepolisian selama lebih dari delapan bulan meminta berdamai, namun korban menolak.
Kuasa hukum korban, Maximilian Satura mengatakan bahwa permintaan damai disampaikan oleh kuasa hukum para terlapor usai pemeriksaan lanjutan di Polres Manggarai Timur pada Senin, 10 Agustus 2026.
“Tadi kuasa hukum para terlapor meminta untuk berdamai. Saya bilang, saya tidak bisa memberi keputusan menerima atau menolak. Tergantung korban,” kata Maxi kepada NTT ViVa pada Senin siang.
Korban, Lodofikus “Lofi” Sandur (24), warga Wangkar, Desa Rana Mese, Kecamatan Congkar, melaporkan kasus itu ke Polres Manggarai Timur pada 19 November 2025.
Dalam laporannya ke polisi, ia menyebut enam orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut, yakni Efan, Fendi, Irno, Servas, Auri, dan Ten.
Lofi mengatakan peristiwa itu terjadi pada Sabtu malam, 16 November 2025, saat ia menghadiri acara syukuran komuni pertama di Kampung Liur, sekitar dua kilometer dari Kampung Wangkar, Desa Rana Mese.
Setibanya di lokasi, ia bertemu Servas, warga Kampung Ngkolong, dan menyampaikan informasi bahwa ada pihak yang sedang mencari dua warga Ngkolong, yakni Efan dan Fendi.
“Saya minta Servas menyampaikan ke Efan dan Fendi agar tidak datang ke acara karena ada yang sedang mencari mereka,” kata Lofi.
Tak lama kemudian, Servas kembali bersama lima orang lainnya, termasuk Efan dan Fendi.
Menurut Lofi, Efan langsung menghampirinya dan bertanya siapa yang mencari mereka. Meski Lofi membantah, cekcok tetap terjadi hingga ia didorong dan terjatuh.
Ia mengaku kemudian dipukul dan diinjak oleh sejumlah orang.
“Saya jatuh lalu mereka pukul dan injak,” katanya.
Saat berusaha bangkit, Lofi menyadari punggungnya mengalami luka sobek cukup parah. Ia kemudian mencoba melarikan diri, namun sempat dihadang.
“Mereka juga sempat melempari saya dengan batu,” ujarnya.
Lofi akhirnya berhasil menyelamatkan diri setelah bersembunyi di toilet belakang rumah warga sebelum meminta pertolongan.
Korban Tolak Berdamai
Maximilian Satura yang kembali menghubungi Viva NTT pada Senin sore mengatakan bahwa ia telah berkomunikasi dengan korban terkait permintaan damai oleh para terlapor. Namun, korban menolak permintaan tersebut.