Kajian Risiko Bencana Manggarai Timur: Banjir, Kekeringan dan Longsor Jadi Prioritas

Kegiatan Sosialisasi Penanggulangan Bencana Manggarai Timur Tahun 2026-2030
Sumber :
  • Rosis Adir

NTT ViVaManggarai Timur menghadapi ancaman bencana yang beragam, mulai dari banjir, banjir bandang, kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, hingga gempa bumi dan tsunami.

img_title Warga Pota dan Dampek Apresiasi Kebijakan "Ambil Dulu, Bayar Kemudian" untuk Korban Gempa Flores

Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Manggarai Timur 2025-2029 menunjukkan sebagian besar jenis bencana berada pada tingkat risiko sedang. Namun, beberapa ancaman berada pada kategori tinggi dan membutuhkan perhatian lebih serius pemerintah daerah.

Dokumen tersebut disosialisasikan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada Rabu, 12 Agustus 2026.

img_title Deputi III BNPB Minta Percepat Pembangunan Huntara Korban Gempa di Manggarai Timur

Dokumen KRB ini mencakup seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Timur. Penyusunannya juga dimaksudkan menjadi salah satu dasar perencanaan pembangunan dan penyusunan dokumen sektoral, seperti RTRW, RDTR, RPJM dan RPJP.

Kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman terbesar

img_title 8.882 Rumah Terdampak Gempa di Manggarai Timur Terverifikasi, Sekda Minta Camat dan Kades Sosialisasikan ke Warga

Salah satu temuan penting dalam kajian tersebut adalah luas wilayah yang berisiko mengalami kebakaran hutan dan lahan mencapai 233.936,28 hektare.

Sebagian besar berada dalam klasifikasi risiko tinggi, yakni 226.989,09 hektare.

Kecamatan Kota Komba memiliki luas wilayah berisiko terbesar, mencapai 35.001,18 hektare. Dari luasan tersebut, 31.131,90 hektare masuk kategori tinggi.

Risiko tinggi juga tercatat di Elar dengan 26.967,42 hektare dan Lamba Leda Utara dengan 27.095,67 hektare.

Secara keseluruhan, kajian menempatkan kebakaran hutan dan lahan sebagai salah satu bencana dengan tingkat risiko tinggi di Manggarai Timur.

Ancaman tersebut berkaitan antara lain dengan musim kemarau yang berkepanjangan, aktivitas masyarakat membuka lahan baru serta kurangnya kesadaran ketika melakukan aktivitas di kawasan hutan.

Dokumen merekomendasikan patroli terpadu pada musim kemarau, pembuatan sekat bakar, penyediaan menara pantau dan sarana pemadaman, edukasi mengenai larangan pembakaran lahan, serta rehabilitasi lahan pascakebakaran.

Wilayah yang menjadi perhatian adalah Lamba Leda Utara, Rana Mese, Lamba Leda dan Sambi Rampas.

Tanah longsor mengancam lebih dari 216 ribu hektare

Tanah longsor menjadi ancaman lain dengan cakupan wilayah yang luas.

Kajian mencatat total wilayah yang berisiko longsor mencapai 216.218,97 hektare. Dari jumlah tersebut, 135.226,08 hektare berada pada klasifikasi sedang dan 75.340,08 hektare masuk kategori tinggi.

Kota Komba memiliki luas wilayah berisiko longsor terbesar, yakni 29.443,50 hektare.

Halaman Selanjutnya
img_title