Antara Jarum Insulin Mama, Tangis di Pengungsian, dan Teka-teki Perut Bumi Flores

Aloysius Do Carmo Sobak
Sumber :
  • Rosis Adir

Oleh:Aloysius Do Carmo Sobak

img_title Deputi III BNPB Minta Percepat Pembangunan Huntara Korban Gempa di Manggarai Timur

Warga Borong, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur

NTT ViVa– Setiap hari, empat kali sehari, saya memiliki satu rutinitas sunyi yang tak boleh terlewatkan: menyiapkan jarum, menakar dosis dengan presisi, dan menyuntikkan insulin ke bagian perut Mama saya yang tengah terbaring lemah karena stroke. Setiap milimeter cairan penawar itu saya suntikkan dengan tangan yang bergetar namun harus dijaga agar tetap hati-hati. Saya tahu, salah dosis atau salah cara, nyawa perempuan yang melahirkan saya ini taruhannya. Tujuannya hanya satu: agar beliau tetap hidup, agar tubuhnya tetap seimbang.

img_title SPPG Manggarai Salurkan Makanan Siap Saji dan Trauma Healing bagi Korban Gempa di Dusun Lemarang

Beberapa hari ini, rutinitas itu saya lakukan di tengah bayang-bayang ketakutan. Guncangan gempa tektonik baru saja merobek ketenangan Flores. Saat tulisan ini dibuat, pikiran dan hati kita semua sedang tertuju pada tenda-tenda darurat yang dingin. Tangan kita sedang bahu-membahu mencoba membuka akses jalan-jalan yang terputus, mendistribusikan logistik, dan memeluk saudara-saudara kita yang kehilangan tempat bernaung. Hari ini, kemanusiaan adalah panglima. Menyelamatkan nyawa adalah satu-satunya prioritas.

Namun, di malam-malam panjang saat menemani Mama yang tertidur lelap sehabis disuntik, kecemasan lain menyelinap ke dalam benak saya. Di layar ponsel, saya menatap lekat-lekat sebuah gambar yang dirilis otoritas kegempaan (terekam dalam file gambar di atas). Di peta sebaran episentrum dari BMKG itu, titik-titik merah darah gempa susulan berderet, seolah menjalar perlahan dari garis patahan sesar di utara lautan, merayap masuk ke arah daratan.

img_title Pasca Gempa dan Erupsi, Bandara Mbay Dinilai Penting untuk Flores

Jari saya menelusuri deretan titik merah itu, dan napas saya tertahan. Pola rambatannya seakan ditarik oleh sebuah garis imajiner menuju titik-titik proyek panas bumi yang saat ini sudah difungsikan di rahim Flores: Ulumbu, Mataloko di Bajawa, hingga Sokoria di Ende.

Melihat jejak titik merah yang menjalar itu, hati saya tercekat oleh sebuah pertanyaan yang sederhana sekaligus menakutkan. Jika saya saja, yang hanya seorang anak biasa, begitu berhati-hati menyuntikkan cairan ke perut Mama demi menjaga keseimbangannya, sudahkah kita melakukan kehati-hatian yang sama saat menyuntikkan cairan bertekanan tinggi ke dalam perut "Ibu Bumi" Flores?

Halaman Selanjutnya
img_title