Pemdes Perak Catat 96 Rumah Rusak Berat, 452 KK Mengungsi di 40 Posko Darurat
- Engkos Pahing
Manggarai, NTT ViVa— Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026, masih menyisakan trauma bagi warga Desa Perak, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai.
Hingga Selasa (18/8/2026), sebanyak 452 kepala keluarga (KK) masih bertahan di 40 titik posko darurat yang tersebar di tiga dusun dan sembilan anak kampung.
Kepala Desa Perak, Yohanes Amad, mengatakan sebagian besar posko pengungsian dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Kondisinya pun masih sangat sederhana dan belum mampu memberikan rasa aman serta nyaman bagi warga yang mengungsi.
“Kami belum mendapatkan bantuan apa-apa dari pemerintah pusat, provinsi hingga daerah. 40 titik posko yang tersebar di tiga dusun, sembilan anak kampung yang ada saat ini hanya posko seadanya, itu masyarakat sendiri yang buat,” ujar Yohanes kepada media ini, Selasa siang.
Menurut Yohanes, bantuan memang telah mulai berdatangan dari sejumlah lembaga swasta dan pihak gereja. Namun, bantuan tersebut belum mampu menjangkau seluruh warga yang membutuhkan.
Di tengah kondisi tersebut, warga masih membutuhkan berbagai kebutuhan dasar untuk bertahan di pengungsian, mulai dari terpal, tikar, makanan, air minum hingga obat-obatan.
“Posko pengungsian yang ada saat ini seadanya. Posko yang ada tidak menjamin kesehatan warga, kondisi posko ini sangat sederhana,” katanya.
Yohanes berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah segera hadir memberikan bantuan secara langsung. Sebab, warga telah tiga hari meninggalkan rumah dan memilih bertahan di posko karena masih diliputi trauma akibat gempa.
“Kami ini sudah tiga hari, siang malam selalu di posko pengungsian. Semua warga masih trauma hingga saat ini,” ujarnya.
96 Rumah Rusak Berat
Selain persoalan pengungsian, gempa juga menyebabkan kerusakan hampir di seluruh rumah warga Desa Perak.
Dari 452 rumah yang didata pemerintah desa, sebanyak 96 rumah mengalami rusak berat, 107 rumah rusak sedang, dan 249 rumah rusak ringan.
“Tidak ada yang selamat, hampir semua rumah mengalami kerusakan,” kata Yohanes.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga. Sejumlah fasilitas umum juga dilaporkan terdampak, di antaranya kantor desa, ruangan Posyandu, Poskesdes, hingga rumah adat masyarakat.