Kisah Hilda Gardis Farni, Tulang Punggung Keluarga yang Jadi Korban Gempa Flores
- Rosis Adir
Manggarai Timur, NTT ViVa– Hilda Gardis Farni duduk di atas kasur di dalam tenda pengungsian di Peot, Kelurahan Satar Peot, Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Kamis, 27 Agustus 2026.
Selimut menutupi bagian bawah tubuhnya. Di belakangnya, tumpukan pakaian dan barang-barang bawaan keluarga memenuhi sudut tenda.
Beberapa hari sebelumnya, perempuan 28 tahun ini, menjalani operasi akibat patah tulang belikat setelah tubuhnya tertimpa reruntuhan rumah saat gempa mengguncang pada 15 Agustus 2026.
Di tenda tersebut, Farni didampingi keluarga pamannya, Martinus Mihu, adik kandung ayahnya.
Farni merupakan penyandang tunawicara. Sejak bencana terjadi, ia untuk sementara harus meninggalkan kampung halaman serta pekerjaan yang selama ini dijalankannya bersama keluarga. Rumah keluarganya di Dampek, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, kini juga sudah tidak ada.
Kondisi rumah keluarga Farni yang rusak berat
- Rosis Adir
Rumah Runtuh saat Farni Tertidur
Pagi hari, 15 Agustus lalu, Farni sedang tidur ketika gempa mengguncang kampungnya. Guncangan tersebut menyebabkan sebagian rumah runtuh, dan reruntuhan tembok mengenai bagian punggungnya hingga menyebabkan patah tulang belikat.
Keluarga segera mengevakuasi Farni untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah menjalani perawatan awal, ia dirujuk untuk menjalani operasi di RSUD Borong.
Rumah keluarga Farni turut mengalami kerusakan berat hingga akhirnya roboh dan rata dengan tanah. Kini, saat Farni menjalani pemulihan di Borong, keluarganya di Dampek tinggal di tenda pengungsian.
Sebelum bencana terjadi, sebagian besar waktu Farni dihabiskan di kampung halaman. Bersama saudara sulungnya, yang juga merupakan penyandang tunawicara, ia membantu mengurus sawah, kebun, dan ternak keluarga, sekaligus merawat kedua orang tua mereka.
Kedua orang tua Farni mengalami stroke dan tidak lagi mampu mengurus kebutuhan sehari-hari secara mandiri, sehingga sebagian besar pekerjaan rumah tangga bergantung pada kedua anak tersebut.
“Sedih. Anak ini dan saudara sulungnya yang juga bisu adalah tulang punggung keluarga,” kata Martinus, Kamis, 27 Agustus 2026.
Selain mengurus pekerjaan keluarga, Farni turut memastikan kebutuhan kedua orang tuanya terpenuhi. Bersama saudaranya, ia mengelola kebun, sawah, dan ternak. Kini, seluruh pekerjaan tersebut dijalankan sang saudara seorang diri, tanpa Farni.