Suara Anak yang Menyelamatkan: Detik-Detik Mengerikan di Golo Mendo

Rumah milik Elfrida di Golo Mendo hancur akibat gempa
Sumber :
  • Yohanes. M

Manggarai, NTT ViVa– Bagi Elfrida Sandria Sanung, pagi Sabtu 15 Agustus 2026 adalah  salah satu  pagi paling mengerikan ketika bumi Flores mengamuk, dan rumah yang menjadi saksi tawa keluarganya selama bertahun-tahun rata dengan tanah hanya dalam hitungan detik.

img_title Pasca Gempa dan Erupsi, Bandara Mbay Dinilai Penting untuk Flores

Pagi itu, Yasinta Mariska, anak sulung Elfrida, bangun lebih dulu. Seragam SMP Katolik Santu Fransiskus Ruteng sudah rapi terpasang, sarapan pun sudah ia siapkan termasuk untuk sang paman yang biasa mengantarnya ke sekolah setiap pagi.

Namun baru beberapa suap nasi masuk, piring di tangan Yasinta terjatuh, disusul guncangan hebat yang datang tanpa aba-aba.

img_title Himpaudi NTT Kunjungi Guru PAUD Korban Gempa Manggarai Timur, Kondisi Dilaporkan ke Pusat

“Waktu itu kami masih tidur. Tiba-tiba terjadi guncangan gempa. Anak saya berteriak, ‘Mama... Mama, bangun!’ Akhirnya kami semua lari ke belakang," kenang Elfrida Sandria Sanung ketika berbincang di atas reruntuhan rumahnya, Jumat, 29 Agustus 2026.

Yasinta, yang saat itu bersama adiknya sedang berada di dapur sambil minum kopi, menjadi orang pertama yang menyadari bahaya. Tanpa membuang waktu, ia berlari dari pintu ke pintu, menggedor setiap kamar, membangunkan sepuluh anggota keluarga yang masih terlelap.

img_title Saat Bumi Berguncang, Menara TBIG Menjaga Flores Tetap Terhubung

Detik yang Menentukan Hidup dan Mati

Keputusan untuk berlari ke arah belakang rumah, bukan ke depan, disebut Elfrida sebagai keputusan yang menyelamatkan nyawa mereka semua.

“Kami memilih lari ke belakang. Memang kalau kami larinya ke depan, mungkin semuanya tidak akan selamat," Elfrida Sandria Sanung menambahkan.

Saat sampai di belakang dapur, mereka justru disambut pemandangan lain yang mencekam: rumah tetangga ambruk di depan mata.

“Pas sampai di belakang dapur, kami lihat rumah sebelah juga rubuh. Akhirnya kami lari ke atas. Saat itu juga kami lihat rumah kami runtuh sekalian, dengan tembok gunung depan dan belakang. Semuanya hancur," tutur ibu tiga anak itu.

Selamat, Namun Trauma Belum Berakhir

Sepuluh orang, dalam satu rumah, semuanya berhasil keluar tanpa satu pun nyawa melayang merupakan hal yang paling disyukuri keluarga Elfrida.

Rumah bisa runtuh dalam sekejap, tetapi rasa takut yang ditinggalkannya tak semudah itu pergi. Elfrida mengaku, sepanjang hidupnya baru kali ini ia merasakan gempa sedahsyat itu.

Halaman Selanjutnya
img_title