Bayi Korban Gempa Flores Dirawat Keluarga Sekda Manggarai Timur

Astika, istri Sekda Manggarai Timur merawat sementara bayi korban gempa Flores
Sumber :
  • Rosis Adir

Manggarai Timur, NTT ViVa–Sebuah kisah pilu datang dari tengah duka gempa Flores. Seorang bayi perempuan yang baru lahir harus kehilangan sang ibu, yang meninggal dunia seusai menjalani operasi caesar di RSUD Borong.

img_title Pasca Gempa dan Erupsi, Bandara Mbay Dinilai Penting untuk Flores

Bayi perempuan yang merupakan anak dari korban gempa Flores itu harus menjalani hari-hari pertama kehidupannya tanpa belaian sang ibu. Ia lahir dari rahim Selviana Tijung (31) warga Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, yang meninggal dunia setelah menjalani operasi caesar di RSUD Borong pada Minggu pagi, 30 Agustus 2026.

Selviana, dan keluarganya merupakan warga terdampak gempa yang hingga kini masih bertahan di pengungsian, setelah rumah mereka di Kampung Hedok rusak diguncang gempa.

img_title Himpaudi NTT Kunjungi Guru PAUD Korban Gempa Manggarai Timur, Kondisi Dilaporkan ke Pusat

Di tengah duka itu,  satu uluran tangan datang dari keluarga Sekretaris Daerah Manggarai Timur, Winsensius Tala. Untuk sementara waktu, sang bayi dirawat dan diasuh langsung oleh istri Sekda, Astika, di rumah pribadi mereka di Borong, ibu kota Manggarai Timur. Astika akan merawat bayi yang bahkan belum sempat mengenal wajah ibunya.

Perawatan sementara ini dilakukan setelah pihak keluarga Sekda lebih dulu meminta izin kepada ayah bayi, Petrus Forfier Insano.

img_title Saat Bumi Berguncang, Menara TBIG Menjaga Flores Tetap Terhubung

Astika, istri Sekda Manggarai Timur, menjelaskan alasan keluarganya mengambil alih perawatan bayi tersebut untuk sementara waktu.

"Jadi ini bayi yang tadi sudah kami ambil dari rumah sakit umum RSUD untuk kami bawa ke rumah, dengan alasan karena orang tuanya, untuk mamanya kebetulan meninggal waktu melahirkan dede bayi. Terus bapaknya harus kembali ke tempat di mana mereka mengungsi, masih ada dua kakaknya (bayi) di sana, masih kecil-kecil, yang harus dijaga juga. Terus dari kedua belah pihak juga kebetulan sudah tidak ada semua," kata Astika.

"Jadi kami bermaksud hanya untuk memberi tempat yang nyaman, yang aman, untuk dede bayi, untuk sementara waktu, supaya dia juga terjaga. Terus kami hanya sedikit bisa memberi bantuan untuk menyiapkan tempat, dan ya sedikit waktu lah untuk bisa bersama dengan dedek bayi, apa yang menjadi perlengkapan kebutuhannya, biar kami bisa memenuhi, sampai pada saat andaikan bapaknya suatu hari sudah merasa siap untuk mengambil kembali dede bayi, kami akan persilahkan," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title