Gempa Anak Ranakah Melandai, Status Waspada Belum Dicabut

Gunung Api Anak Ranakah di Manggarai NTT
Sumber :
  • ViVa.co.id/ Jo Kenaru

Manggarai, NTT ViVa– Aktivitas vulkanik Gunung Api Anak Ranakah di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sempat melonjak tajam pascagempa Flores bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026, kini menunjukkan tren penurunan.

img_title 2.768 Gempa Susulan Flores: Ketika Bencana Belum Selesai, Warga Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Risiko

Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Ranakah, Andik Kurnia Adi Pratama, menyebut baik intensitas kegempaan maupun amplitudo getaran terus meredup dalam beberapa hari terakhir.

"Alhamdulillah intensitas menurun sudah mengecil, artinya aktivitas magmatik di bawah gunung api terus menurun," ujar Andik saat ditemui di Pos Pemantau Anak Ranakah, Rabu, 9 September 2026.

img_title Waspada! Minum Air Putih Berlebihan Bisa Bahaya bagi Penderita Ginjal

Sebelum tren penurunan ini terjadi, Anak Ranakah sempat mengalami lonjakan kegempaan yang signifikan. Sejak gempa Flores 15 Agustus 2026, jumlah kejadian kegempaan yang semula hanya di bawah 10 kali per hari melonjak drastis hingga mencapai 143 kali pada 1 September 2026.

Lonjakan itulah yang mendorong Badan Geologi menaikkan status Anak Ranaka dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada), terhitung sejak 1 September 2026 pukul 23.00 WITA.

img_title Gunung Lewotobi Laki-Laki Kabupaten Flores Timur Kembali Erupsi 9-10 Agustus 2025, Status Awas!

Kenaikan status ditetapkan berdasarkan kombinasi data pemantauan visual dan instrumental, serta potensi bahaya yang dinilai meningkat saat itu.

Data pemantauan sepanjang 1–31 Agustus 2026 mencatat 367 kali gempa vulkanik dalam, 3.272 kali gempa tektonik lokal, 2.776 kali gempa tektonik jauh, dan 218 kali gempa yang dirasakan dengan skala II hingga VII Modified Mercalli Intensity (MMI). Memasuki 1 September 2026 saja, hingga pukul 18.30 WITA, tercatat 94 kali gempa vulkanik dalam, 144 kali gempa tektonik lokal, 85 kali gempa tektonik jauh, dan satu kali gempa yang dirasakan pada skala II MMI.

Energi seismik yang diukur dengan metode Real-time Seismic Amplitude Measurements (RSAM) turut menunjukkan peningkatan signifikan sejak 15 Agustus, sempat melandai di akhir Agustus, lalu kembali naik pada 1 September 2026 seiring bertambahnya gempa vulkanik dalam. Kondisi ini, menurut hasil analisis, mengindikasikan adanya proses peretakan batuan akibat suplai magma dari dalam yang mengubah tekanan pada tubuh gunung.

Tren Melandai dalam Sepekan Terakhir

Andik menuturkan, lonjakan pada 1 September itu langsung dilaporkan ke Badan Geologi malam itu juga untuk dianalisis lebih lanjut, mengingat kenaikannya jauh di atas rata-rata harian yang biasanya hanya satuan digit.

Halaman Selanjutnya
img_title