Komentar Eks Pendemo soal Pagar Roboh Dibawa ke Polres: Pagarnya Karatan dan Sering Digoyang
- Jo Kenaru
Manggarai, NTT VIVA – Aksi demontasi Aliansi Pemuda Poco Leok tolak geotermal, pada Senin, 3 Maret 2025 berakhir ricuh dan menyebabkan pagar Kantor Bupati Manggarai roboh.
Pendemo kemudian disalahkan sehingga dilaporkan ke polisi dengan sangkaan melakukan perusakan.
Polisi dari Polres Manggarai segera ke TKP, melilit bagian pagar yang roboh dengan pita polisi.
Awak media ketika hendak mengonfirmasi perkembangan kasus ini mendapati sejumlah Satpol PP mendorong bagian pagar yang masih utuh ditambah bagian pagar yang bengkok di Mapolres Manggarai.
Humas Polres Manggarai Iptu I Made Budi Arsa menjelaskan, pelapor kasus pagar rusak adalah Kabag Umum Setda, Fransiskus M. Beka.
“Pelapornya Kabag Umum. Pihak yang sudah dimintai keterangan Kabag Umum, Kasat Pol PP dan 3 Saksi dari Pol PP,” ujar Iptu Budi, Sabtu 8 Maret 2025.
“Barang bukti pagar sudah diamankan di Polres,” sambungnya.
Menurut Iptu Budi, terlapor bakal dikenakan Pasal 170 ayat (1). Pasal ini berbunyi
"Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan hukuman penjara paling lama lima tahun enam bulan”.
Poster tolak geotermal dalam aksi demo di Kantor Bupati Manggarai
- Jo Kenaru
Pagar sering digoyang pendemo dan berkarat
Pagar yang roboh disebut mudah rapuh karena karatan dan kerap menjadi sasaran para pendemo termasuk aksi mahasiswa yang dari dulu sering menggoyang pagar itu.
“Pagarnya sudah lama sejak kantor bupati dibangun tahun 2010 memang sudah karatan dan sering digoyang setiap kali ada demo. Waktu kami sering demo pagar tersebut kami goyang-goyang. Itu pagar besinya kecil sehingga kalau digoyang-goyang cepat roboh,” ujar seorang mantan pendemo di Ruteng.
“Saya kira menggoyang saja tidak bermaksud merusak. Tapi karena pagarnya rapuh dan berkarat makanya roboh dan bengkok. Pagar yang kuat seharusnya seperti di Kantor Kejaksaan itu. Kita goyang-goyang susah robohnya,” sambung sumber tersebut sambil terkekeh.
Pria tamatan dari UNIKA Santu Paulus Ruteng itu memberikan pandangan berbeda atas pemidanaan oleh anak buah Bupati Hery Nabit terhadap pendemo.
“Pagarnya sudah karatan begitu. Sudah rapuh sehingga begitu digoyang-goyang rel di bawahnya langsung terlepas. Karena batang besinya pada karatan ya cepat bengkok. Itu bengkok ya bukan patah,” ulangnya.