Menenun Jalan ke Pasar Digital
- Sevrin Waja
Naldo menyarankan agar promosi digital tidak hanya menampilkan gambar dan harga, tetapi juga menyertakan cerita mengenai kain yang ditawarkan.
“Saran saya juga perbanyak promosi melalui media sosial dengan narasi yang bagus. Story telling cerita tentang apa itu Telopoi, apa itu Ragi,” katanya.
Cerita tersebut penting karena tenun Nagekeo memiliki beragam jenis, di antaranya Ragi, Hoba Nage, Hoba Geo, Dhowik, dan Telopoi. Setiap jenis memiliki karakteristik dan nilai budaya yang perlu dikenalkan secara tepat kepada pembeli.
Dengan menyertakan cerita, pemasaran digital dapat menjadi sarana memperkenalkan pengetahuan budaya kepada konsumen yang sebelumnya tidak mengenal tenun Nagekeo.
Di sisi lain, upaya itu perlu disertai pemahaman mengenai proses pembuatan kain dan keterampilan yang menopang keberlangsungannya.
Pengamat budaya Wilibrodus Lasa menekankan pentingnya menjaga tradisi menenun, termasuk membedakan kain yang dibuat melalui proses tradisional dengan kain bermotif tenun yang diproduksi menggunakan teknik cetak.
Perluasan pasar, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keterampilan, pengetahuan, dan regenerasi penenun.
"Untuk generasi muda, tenun perlu diperkenalkan bukan hanya sebagai produk yang bisa dijual, melainkan juga sebagai bagian dari identitas masyarakat" tutur Wilibrodus.
Promosi digital dapat membantu memperkenalkan nilai tersebut kepada calon pembeli selama cerita yang disampaikan tidak menghilangkan konteks budaya kain.
Wilibrodus Lasa juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya berjalan seiring dengan pelestarian tradisi kekayaan intelektual termasuk tenun ikat.
“Jadi ketika teknologi digital membawa tenun kita ke pasar yang lebih jauh, jangan hanya kainnya yang sampai. Cerita dan budayanya juga harus ikut sampai,” ujarnya.
Memperluas pasar tenun ikat Nagekeo berarti membuka peluang ekonomi bagi perajin sekaligus menjaga motif, keterampilan, dan warisan budaya lintas generasi.
Teknologi dapat membawa kain melampaui batas wilayah, tetapi keberlanjutan tenun tetap bertumpu pada orang-orang yang membuatnya, pengetahuan yang mereka wariskan, dan nilai budaya yang menyertainya.