Seminar Keluarga Muda Katolik Kuatkan Iman dan Perutusan
- Mikael Risdiyanto
NTT VIVA – Dalam rangka menyambut 100 tahun kehadiran Kongregasi Suster Perawan Maria (SPM) di Indonesia.
Kongregasi SPM Provindo menyelenggarakan seminar bertajuk “Keluarga Muda Katolik: Terkoneksi dalam Iman, Terpanggil dalam Misi” pada Sabtu, 22 November 2025 di Aula CU Mandiri, Probolinggo.
Kegiatan ini menjadi ruang formasi bagi keluarga muda Katolik untuk memperkuat spiritualitas, misi keluarga, dan peran dalam pendidikan iman.
Seminar diikuti lebih dari 200 peserta, terdiri dari pasangan suami istri dengan usia pernikahan di bawah 10 tahun dari berbagai kota yakni Magelang, Jogjakarta, Surabaya, Mojokerto, Malang, Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi hingga Probolinggo.
Sistem registrasi menggunakan barcode scan memudahkan alur kedatangan peserta.
Pengurus Inti Komunitas Sapta Kasih (KSK)
- Mikael Risdiyanto
Sementara itu, anak-anak ditempatkan di ruang khusus bermain yang difasilitasi panitia sehingga kegiatan dapat berlangsung kondusif sejak pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
Pembukaan acara dilakukan oleh Sr. Linda SPM yang menegaskan pentingnya sinergi gereja dan lembaga pendidikan Katolik guna memperkuat karya pelayanan.
Menurutnya, “Perlunya peningkatan kerjasama yang kokoh” menjadi kunci agar pendidikan Katolik tidak hanya berjalan di sekolah, tetapi menjiwai hidup keluarga dan memberi dampak bagi masyarakat.
Ia menambahkan bahwa peserta seminar adalah mitra dalam perutusan tersebut, sehingga kegiatan ini menjadi sarana memperteguh eksistensi Keluarga Muda Katolik sebagai pelaku misi gereja.
Sesi materi utama dibawakan oleh Romo Erwin MSF dari Semarang, yang memberikan dua sesi refleksi dan pembinaan bertema relasi keluarga, pendidikan anak, hingga dinamika pastoral keluarga muda.
Penyampaian materi yang diselingi humor ringan membuat peserta aktif bertanya, terutama terkait pengasuhan anak, komunikasi suami-istri, serta tantangan keluarga muda masa kini.
Dalam salah satu penekanannya, Romo Erwin menyoroti urgensi pendampingan anak dalam penggunaan teknologi.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak menyerahkan gadget secara bebas tanpa pengawasan.
Ia menyampaikan bahwa anak perlu dibekali kemampuan memilah konten digital dengan penuh tanggung jawab, dan orang tua harus memiliki kendali penuh terhadap arah penggunaan perangkat teknologi di rumah.
Sebagai penutup kegiatan, Sr. Theresella selaku Ketua Perkumpulan Dharmaputri menetapkan Komunitas Sapta Kasih (KSK) yang beranggotakan tujuh pasangan terpilih dari lima wilayah karya Dharmaputri.