Mengapa Kita Lebih Mudah Mengkritik daripada Dikritik?

Mengapa Kita Lebih Mudah Mengkritik daripada Dikritik?
Sumber :
  • Pixabay.com

NTT ViVa– Mengkritik adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Cukup dengan melihat, menilai, lalu menyampaikan pendapat—baik di dunia nyata maupun dunia maya. Kita bebas berkomentar tentang sikap, keputusan, atau bahkan penampilan orang lain. Tapi ketika peran dibalik, saat kita yang menjadi objek kritik, tiba-tiba semua terasa tidak nyaman. Kenapa bisa begitu?

img_title Resistensi dan Relevansi Pembentukan 750 Batalyon TNI

Salah satu alasan utama adalah karena mengkritik memberi kita rasa kontrol, sementara dikritik membuat kita merasa kehilangan kendali. Saat mengkritik, kita merasa berada di posisi “lebih tahu” atau “lebih benar”. Tapi saat dikritik, posisi itu berbalik—dan kita merasa diserang, dinilai, bahkan direndahkan.

Secara psikologis, manusia memang memiliki mekanisme pertahanan diri. Ketika harga diri terasa terancam, otak kita secara otomatis akan mencoba membela diri. Kritik, terutama yang tidak disampaikan dengan baik, mudah ditafsirkan sebagai serangan, bukan masukan. Maka tak heran jika banyak orang merasa disudutkan saat menerima kritik.

img_title Narasumber Pers Tidak Bisa Dipidanakan

Mengkritik orang lain juga sering kali menjadi bentuk pelampiasan emosi atau ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Tanpa sadar, kita memproyeksikan kekurangan atau ketakutan pribadi ke orang lain. Alih-alih mengoreksi diri, kita justru lebih sibuk menilai luar. Ini adalah bentuk penolakan terhadap introspeksi.

Fenomena ini juga diperparah oleh budaya sosial, terutama di media sosial, yang mendukung ekspresi spontan tanpa filter. Kita dibiasakan untuk bereaksi cepat, memberi komentar, dan menilai sesuatu dalam hitungan detik. Tapi budaya mendengar, merenung, atau menerima masukan justru makin jarang dilatih.

img_title Logika Bupati Nagekeo Disorot: Benarkah Kritisi Proyek Jalan, Dana Inpres Berpotensi Diblokir?

Mengkritik juga tidak menuntut kerentanan. Kita bisa melontarkan komentar tanpa membuka sisi pribadi kita. Tapi menerima kritik berarti membuka diri untuk dihakimi. Itulah sebabnya mengkritik terasa aman, sementara dikritik bisa terasa mengancam dan menyakitkan, terutama jika kita belum memiliki kepercayaan diri yang stabil.

Ada juga faktor ego dan superioritas semu. Saat kita mengkritik, kita merasa memiliki keunggulan moral atau intelektual dibanding orang yang kita kritik. Tapi ketika menerima kritik, kita dipaksa untuk menurunkan ego, mengakui bahwa kita bisa salah. Ini bukan hal mudah bagi banyak orang, apalagi yang terbiasa ingin tampil sempurna.

Halaman Selanjutnya
img_title