Scroll, Like, Down: Mental Gen Z dan Media Sosial
- pixabay.com
NTT ViVa– Era digital telah menjadikan media sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gen Z—generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Mereka tumbuh bersama ponsel pintar, notifikasi instan, dan algoritma yang menyusun isi beranda sesuai kebiasaan pribadi. Media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin eksistensi dan validasi diri. Namun di balik gemerlap visual dan interaksi digital, tersimpan sebuah ironi: tekanan mental yang kian membayangi.
Menurut laporan dari American Psychological Association (APA), Gen Z adalah generasi dengan tingkat stres dan kecemasan tertinggi dibanding generasi sebelumnya. Salah satu pemicunya adalah keterpaparan terus-menerus terhadap media sosial. Fitur-fitur seperti jumlah "like", komentar, dan jumlah pengikut menciptakan standar popularitas yang semu, namun mampu memengaruhi harga diri dan persepsi diri. Fenomena ini dikenal sebagai social comparison trap: jebakan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar.
Riset dari University of Pennsylvania (2018) menemukan bahwa membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari dapat secara signifikan menurunkan gejala depresi dan kesepian. Namun, pada kenyataannya, rata-rata Gen Z menghabiskan 3–6 jam per hari di platform seperti TikTok, Instagram, atau X (dulu Twitter). Aktivitas ini tidak hanya menguras waktu, tetapi juga memperburuk mental fatigue: kelelahan mental akibat terlalu banyak informasi dan emosi yang tidak stabil.
FOMO (Fear of Missing Out) adalah salah satu gejala umum yang dialami Gen Z ketika terlalu lama berselancar di dunia maya. Mereka takut tertinggal tren, tidak update, atau tidak dianggap eksis. Ironisnya, FOMO justru membawa pada perasaan rendah diri dan tidak puas terhadap kehidupan pribadi. Di sisi lain, ada pula gejala doomscrolling, kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif yang memicu stres dan kecemasan sosial.
Tak hanya itu, cyberbullying, body shaming, hingga ekspektasi gaya hidup “Instagramable” menambah beban psikologis yang tidak ringan. Gen Z dipaksa tampil sempurna, bahkan ketika hati mereka sedang tidak baik-baik saja. Perilaku kurasi diri memilih unggahan terbaik agar terlihat menarik bisa membuat individu kehilangan jati diri aslinya dan terjebak dalam performa semu yang melelahkan.
Namun, bukan berarti media sosial hanya membawa dampak negatif. Banyak Gen Z yang justru menemukan ruang untuk berekspresi, belajar, membangun komunitas dukungan, bahkan menyuarakan isu-isu penting seperti kesehatan mental, perubahan iklim, atau keadilan sosial. Media sosial dapat menjadi alat pemberdayaan, selama digunakan secara sadar dan bijak.
Solusinya bukan sekadar "detoks digital", tetapi juga membangun kesadaran akan self-worth di luar layar. Pendidikan literasi digital dan literasi emosi perlu menjadi bagian dari sistem pendidikan formal dan keluarga. Gen Z perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, mengatur waktu layar (screen time), dan mengenali tanda-tanda kelelahan mental.
Membangun kesehatan mental di era serba daring bukanlah tugas individu semata. Dukungan dari orang tua, pendidik, pemerintah, hingga platform media sosial itu sendiri sangat penting. Fitur pengingat waktu pakai, filter konten negatif, dan promosi konten positif bisa menjadi bagian dari ekosistem yang lebih ramah bagi kesehatan mental.
Akhirnya, Gen Z harus diingatkan bahwa nilai diri tidak diukur dari jumlah like atau followers. Dunia nyata dengan segala kekurangannya adalah ruang hidup yang tak tergantikan. Belajar menikmati momen tanpa harus membagikannya ke publik, adalah bentuk kecil dari perlawanan terhadap tekanan digital yang tidak kasatmata. Dari scroll, like, hingga down, saatnya Gen Z naik kembali dengan sadar, kuat, dan utuh.