Api di Balik Lilin Yuliana
- Nera Academia
NTT ViVa– Di lereng pegunungan Poco Kuwus Manggarai Barat Flores yang sejuk dan sunyi, berdiri sebuah rumah sederhana beratap seng, dengan pekarangan luas yang ditumbuhi Bayam dan Kemangi. Di situlah Yuliana tinggal, bersama enam anaknya yang semua telah tumbuh remaja dan dewasa muda: Mikael, Lukas, Gratia, Rafael, Frans, dan si bungsu Vina. Semuanya anak Gen Z. Semuanya sibuk dengan gawai, medsos, dan urusan hidup yang sering membuat Yuliana bingung sekaligus khawatir.
Hari itu Kamis sore, menjelang Tri Hari Suci. Angin membawa aroma tanah basah dan bau dupa dari Gereja kecil di ujung kampung. Yuliana menyuruh anak-anak bersiap mengikuti Misa Kamis Putih. Tapi seperti biasa, suara protes lebih dahulu datang sebelum langkah kaki.
“Ma, saya ada meeting online sama klien. Ini penting,” seru Mikael, anak sulungnya yang jadi desainer grafis lepas.
“Besok juga masih ada ibadah kan? Untuk apa tiap hari harus ke gereja?” tukas Lukas, sambil terus menggulir layar TikTok.
“Ma, kita kan bisa streaming Misa dari YouTube,” tambah Gratia. “Lebih hemat waktu dan data, toh? Kita tetap ikut.”
Yuliana menarik napas panjang. Ia tak ingin marah. Tapi batinnya tergores. Ia bukan ibu yang anti teknologi. Tapi ia tahu, layar tidak bisa menggantikan keheningan di hadapan Sakramen Mahakudus, atau gemetar di tangan saat menerima lilin Paskah di tengah gelap malam.
Ia hanya berkata pelan, “Anak-anak, Kamis Putih bukan sekadar ritual. Itu peringatan Yesus membasuh kaki para murid. Ia, Tuhan, mau berlutut di hadapan manusia. Bisa tidak kita, setahun sekali saja, menyisihkan waktu buat Tuhan yang tiap hari urus hidup kita?”
Kalimat itu menggantung di udara. Ada yang tertusuk. Mikael perlahan mematikan laptop. Gratia menurunkan ponsel. Bahkan Lukas pun hanya menunduk.
Malam itu, mereka sekeluarga hadir di Gereja dusun. Dalam kesederhanaan—lilin kecil, salib berselubung ungu, dan nyanyian yang fals tapi tulus—Yuliana merasa damai. Saat pastor membasuh kaki dua belas umat, Yuliana memejamkan mata. Ia membayangkan Yesus membasuh dirinya yang penuh letih. Dan ia berdoa, semoga anak-anaknya mengerti, bahwa cinta selalu dimulai dari kerendahan hati.
Keesokan harinya, Jumat Agung
Yuliana berdiri di dapur, memasak bubur kacang untuk buka puasa bersama. Di radio tua, berita tentang konflik, banjir, dan harga pangan yang melonjak terus mengalun. Ia menoleh ke halaman. Frans sedang duduk di teras dengan gitar, menyanyi lagu patah hati. Rafael sedang nonton berita tentang artis Korea yang bunuh diri.
“Ma, kenapa Tuhan harus mati di salib? Sepertinya tidak masuk akal. Dia kan Tuhan?” tanya Rafael, matanya tak lepas dari layar.
Yuliana meletakkan sendok. Ia duduk di sebelah Rafael. “Rafa, kamu tahu rasanya ditinggal teman? Atau dikhianati?”
Rafael mengangguk pelan.
“Jumat Agung itu tentang Tuhan yang mengerti rasanya. Yang tidak datang dari atas langit bawa mukjizat, tapi datang ke luka manusia. Ia dipukul, dihina, disalib. Karena cinta sejati tidak datang dari kekuatan, tapi dari solidaritas.”
Frans mendekat, duduk di samping mereka. “Jadi, Yesus itu bukan cuma juru selamat, tapi juga teman seperjuangan?”
Yuliana tersenyum. “Dia yang pertama kali memeluk luka, supaya kita tahu bahwa penderitaan bukan akhir. Bahwa salib bukan kuburan, tapi jembatan.”
Sore itu, mereka berjalan kaki ke Gereja. Jalan setapak itu dipenuhi umat, dalam diam, membawa Rosario kecil dari rumah masing-masing. Di tengah ibadah, saat kisah sengsara dibacakan perlahan, mata Vina berkaca-kaca. “Ma, Tuhan Yesus tuh benar-benar menderita ya, seperti layaknya manusia …”
Yuliana menggenggam tangan si bungsu. “Iya, Vin. Dia menderita, supaya kita tidak merasa sendirian waktu hidup terasa gelap.”
Malam Paskah tiba. Hujan rintik turun. Gereja gelap. Lilin besar dinyalakan di luar altar, dan cahaya mulai menyebar ke tiap lilin umat. Mikael yang awalnya ogah-ogahan kini menggenggam lilin dengan khusyuk. Lukas mengabadikan momen itu, lalu menyimpan ponsel di saku. Gratia memejamkan mata, menyanyikan Exsultet dengan suara pelan tapi penuh makna.
Malam Paskah tiba
Hujan rintik turun. Gereja gelap. Lilin besar dinyalakan di luar altar, dan cahaya mulai menyebar ke tiap lilin umat. Mikael yang awalnya ogah-ogahan kini menggenggam lilin dengan khusyuk. Lukas mengabadikan momen itu, lalu menyimpan ponsel di saku. Gratia memejamkan mata, menyanyikan Exsultet dengan suara pelan tapi penuh makna.
Dalam homilinya, Pastor Doni berkata, “Kita sering merasa hidup seperti kubur. Gelap. Sepi. Tak ada harapan. Tapi Paskah berkata: jangan takut. Kubur itu kosong. Hidup menang. Terang menang.”
Yuliana menoleh ke anak-anaknya. Ada yang berubah. Tak banyak bicara. Tapi ia melihat api kecil di mata mereka—api yang menyala bukan karena lilin, tapi karena cahaya dari dalam diri mereka.
Minggu pagi
Mereka sarapan bersama. Rafael menulis puisi Paskah di status WhatsApp. Gratia membuat desain kartu ucapan dan mengirimkannya ke grup keluarga. Frans menyanyikan lagu rohani dengan irama reggae. Lukas bahkan menulis postingan di Instagram: “Paskah itu kayak restart. Hidup baru. Bukan karena segalanya beres, tapi karena kita punya alasan untuk tidak menyerah.” Vina memeluk ibunya.
“Ma, saya mau ikut pelayanan remaja minggu depan. Boleh?”
Mikael tersenyum, menepuk pundak ibunya. “Thanks ya, Ma. Mama tidak hanya mengajarkan kami tentang iman. Tapi mengajarkan kami tentang hidup.” Yuliana tak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, menahan air mata syukur.
Di luar, matahari Paskah menyinari lembah Poco Kuwus. Dan di dalam rumah kecil itu, kebangkitan telah lebih dulu terjadi. Bukan di langit. Tapi di hati yang kembali menyala.
“Kebangkitan bukan hanya soal Yesus. Tapi soal kita—yang dipanggil untuk bangkit dari takut, dari letih, dari kubur-kubur kecil dalam hidup. Dan kadang, semua itu dimulai dari seorang ibu yang tak pernah lelah menyalakan lilin dalam gelap.”