78 Mahasiswa Asistensi Paskah 2026 di Stasi Santu Yosep Indrong: Pelayanan Liturgi, Ekologi, dan Kebersamaan Umat
- Paulus Darma
Manggarai, VIVA NTT— Sebanyak 78 mahasiswa dari delapan program studi Unika Santu Paulus Ruteng melaksanakan pekan Asistensi Paskah 2026 di Stasi Santu Yosep Indrong, Paroki Rekas, Manggarai Barat.
Selama enam hari, 1–6 April 2026, mereka terlibat langsung dalam perayaan Kamis Putih, Sabtu Suci, dan Hari Raya Paskah, sekaligus menjalankan program ekologi dan kesenian bersama umat setempat, menjadikan kegiatan ini lebih dari sekadar pelayanan gerejawi, melainkan laboratorium hidup pembelajaran berbasis pengalaman.
Delapan Prodi dalam Misi Paskah
Kelompok asistensi yang dipelopori mahasiswa PGSD Kelas 2023D ini melibatkan peserta dari Program Studi Pendidikan Teologi, Bahasa Inggris, Bahasa dan Sastra Indonesia, Teknik Sipil, Keperawatan, Kebidanan, dan Agronomi. Rombongan berangkat dari Ruteng pada Rabu, 1 April 2026, pukul 09.00 WITA dan tiba di Indrong pukul 12.30 WITA.
Keragaman latar keilmuan peserta mencerminkan semangat lintas disiplin yang menjadi ciri khas kegiatan ini. Setiap mahasiswa membawa perspektif unikndari kesehatan, rekayasa, hingga seni bahasa yang memperkaya dinamika pelayanan di lapangan.
Sambutan Adat dan Ucapan Syukur
Setibanya di lokasi, para mahasiswa disambut secara adat oleh umat Stasi Indrong. Ketua Dewan Stasi Indrong, Amadius Amal, menyampaikan rasa bangga dan sukacita atas kehadiran rombongan, Jumat, 3 April 2026.
"Kami merasa bangga dan bersukacita atas kehadiran para mahasiswa bersama dosen pendamping. Terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan dengan memilih tempat ini sebagai lokasi Asistensi Paskah Tahun 2026," ungkap Amadius Amal, Ketua Dewan Stasi Indrong
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Panitia Paskah Stasi Indrong, Didimus Sandra, yang menekankan makna kehadiran mahasiswa bagi dinamika umat. Dosen pendamping, Feliks Hatam, pun menyampaikan terima kasih atas penerimaan hangat dan mengajak seluruh pihak untuk menyukseskan perayaan Paskah 2026 melalui semangat kolaborasi.
Experiential Learning di Tengah Umat
Dosen pendamping Feliks Hatam menegaskan bahwa asistensi semacam ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Bagi mahasiswa, ini adalah ruang belajar yang sesungguhnya: mereka berlatih memimpin, membangun kolaborasi, menyelesaikan konflik, dan mengembangkan komunikasi nyata di tengah kehidupan komunitas.
"Mahasiswa tidak sekadar memahami dan mengimplementasikan teori, tetapi juga mengalami proses pembelajaran yang lebih mendalam melibatkan keterlibatan aktif sekaligus aspek emosional," kata Feliks Hatam.