Festival Golo Koe 2026 Usung Tema Keutuhan Ciptaan, Kampanyekan Pariwisata Ramah Lingkungan
- Istimewa
Manggarai Barat, VIVA NTT–Festival Golo Koe 2026 mengangkat tema "Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan". Tema tersebut dipilih sebagai respons atas krisis lingkungan global yang ditandai cuaca ekstrem dan bencana alam, sekaligus menyoroti pembangunan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas.
Festival yang diinisiasi Keuskupan Ruteng dan kini dilanjutkan Keuskupan Labuan Bajo ini digagas untuk menanggapi pesatnya pembangunan pariwisata di kawasan tersebut.
Melalui festival ini, pariwisata tidak hanya dipandang sebagai penggerak ekonomi, sosial, dan budaya, tetapi juga direfleksikan secara spiritual sebagai sarana perjumpaan dengan alam dan sesama.
Uskup Labuan Bajo, Mgr Maksimus Regus, dalam peluncuran Festival Golo Koe 2026 pada Kamis, 4 Juni 2026, mengatakan dunia saat ini sedang menghadapi krisis lingkungan yang serius.
"Dunia tengah menghadapi kekacauan iklim dan kelangkaan ekologis," ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat melakukan langkah pertobatan bersama demi keberlangsungan bumi.
"Kita perlu melakukan pertobatan ekologis yang diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjadikan bumi sebagai rumah bersama," katanya.
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menegaskan tema tahun ini menjadi pengingat penting untuk menghadapi krisis iklim melalui aksi nyata, bukan sekadar retorika.
"Tema tahun ini adalah alarm penting untuk menghadapi krisis iklim melalui aksi nyata, bukan sekadar retorika," kata Edi.
Ia berharap festival ini menjadi oase spiritual, tempat terjadinya transformasi batin, sosial, dan ekonomi yang mendukung kehidupan bersama di Labuan Bajo.
Pekan Puncak festival akan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 dengan agenda khusus ekologi. Pada 11 Agustus 2026, digelar Edukasi dan Aksi Ekologis yang melibatkan generasi muda, pelajar, dan komunitas peduli lingkungan untuk membersihkan sampah dan menanam pohon. Panitia juga berkomitmen mengampanyekan keutuhan ciptaan selama festival berlangsung melalui pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, pengurangan plastik sekali pakai, dan penanaman pohon kelapa di pesisir pantai.