Patung Komodo dari 500 Knalpot Brong Sitaan Hiasi Wisata Labuan Bajo
- Ist
Manggarai Barat, ViVa NTT–Dulu, suara itu adalah musuh bersama. Knalpot brong yang menggerung di jalanan Labuan Bajo selalu mengundang sumpah serapah dari turis yang terganggu tidurnya, dari warga yang sedang menikmati senja, dari siapa pun yang sekadar ingin mendengar deburan ombak tanpa interupsi.
Kini, ratusan knalpot yang dulu membuat bising itu telah membisu. Mereka menjelma menjadi sosok yang justru mengundang decak kagum. Sebuah patung Komodo raksasa, berdiri kokoh setinggi 3 meter dengan tubuh menjulur sepanjang 6 meter, tepat di depan Markas Komando Polres Manggarai Barat yang baru di kawasan Kampung Ujung.
Patung ini dirakit dari 500 unit knalpot brong yang disita Satuan Lalu Lintas Polres Manggarai Barat lewat serangkaian operasi penertiban. Lokasinya pun dipilih dengan cermat: bersisian langsung dengan pusat wisata kuliner malam yang selalu dipadati pengunjung, menjadikan karya ini mustahil terlewatkan oleh siapa pun yang melintas menuju Labuan Bajo, salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas andalan Indonesia.
Ide ini lahir dari Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, yang resah melihat polusi suara terus-menerus mengganggu kenyamanan kawasan wisata premium tersebut. Daripada memusnahkan barang sitaan dengan cara konvensional yang ujungnya hanya menjadi limbah besi tak berguna, ia memilih jalan yang lebih bermakna: mengubahnya menjadi karya seni publik.
“Kami ingin menunjukkan bahwa penegakan hukum itu tidak melulu soal tindakan kaku atau hukuman yang menakutkan,” ujar AKBP Christian dalam keterangannya, Rabu, 17 Juni 2026 malam.
Ia menambahkan, setiap lekuk tubuh patung ini sengaja dirancang untuk membawa pesan kepada para pengendara agar menjaga keheningan dan kenyamanan Labuan Bajo, demi keselamatan bersama sekaligus ketenangan wisatawan.
Mengapa Memilih Komodo sebagai Simbol
Pilihan bentuk Komodo bukan kebetulan. Sebagai satwa purba yang jadi identitas NTT dan magnet wisata dunia, Komodo adalah simbol yang langsung dikenali, sekaligus pengingat bahwa kawasan ini layak dijaga keasriannya, termasuk dari gangguan suara yang merusak pengalaman wisata.
Setiap potongan pipa knalpot yang membentuk sisik Komodo membawa cerita ganda: jejak pelanggaran yang pernah terjadi, dan harapan akan ketertiban yang ingin diwujudkan. Patung ini berfungsi layaknya monumen edukasi visual yang berbicara tanpa perlu rambu peringatan atau denda.