Perempuan dan Republik yang Masih Maskulin
- Dok. Meldyani Yolfa Jaya
Menuju Republik yang Inklusif
Perempuan tidak butuh belas kasihan dari negara. Mereka butuh ruang—yang aman, setara, dan terbuka. Bukan ruang khusus, tapi ruang yang tidak mengasumsikan bahwa suara perempuan adalah pengecualian. Ruang yang mengakui bahwa mereka memiliki agensi, gagasan, dan kekuatan untuk membentuk republik ini.
Sudah waktunya republik ini mendefinisikan ulang kekuasaan—bukan sebagai dominasi, tapi sebagai keberanian melayani dan membuka jalan. Karena negara bukan milik mereka yang paling berkuasa, tapi milik mereka yang mau berjuang bersama untuk semua.
Penutup: Republik Siapa?
Di cermin republik ini, wajah-wajah perempuan masih terpantul remang. Beberapa menunduk, sebagian mendongak menantang. Tapi semua menunggu hal yang sama: negara yang tidak hanya menyanyikan nama mereka dalam lagu kebangsaan, tapi juga mengikutsertakan mereka dalam narasi utama kekuasaan, pengambilan keputusan, dan arah masa depan.
Karena tak ada republik yang benar-benar utuh tanpa perempuan.