Habemus Papam: Paus Leo XIV
- Media Vatikan
NTT ViVa– "La pace sia con tutti voi!" (Damai sejahtera bagimu!) Begitulah sapaan pertama Paus baru, Paus Leo XIV kepada ribuan umat yang berkumpul di Basilika Santo Petrus.
Asap putih yang mengepul dari cerobong Kapel Sistina pertanda bahwa seorang penerus Tahta Suci telah dipilih.
Kardinal senior Dominique memberikan pengumuman resmi dari balkon Basilika Santo Petrus, diiringi sorak-sorai ribuan umat yang menanti kabar Suka Cita tersebut
Suasana haru dan sukacita menyelimuti Vatikan saat Kardinal Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat terpilih dalam Konklaf ke-267 sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik, menggantikan Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April lalu.
Penetapan nama Prevost memimpin Tahta Suci terjadi setelah konklaf yang berlangsung tiga putaran, diikuti oleh 133 kardinal dari berbagai belahan dunia.
Paus Leo XIV (nama kepausan yang dipilihnya) mencatatkan sejarah sebagai Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat dalam 2.000 tahun perjalanan Gereja Katolik. Lahir di Chicago pada 14 September 1955, Prevost sebelumnya dikenal sebagai Uskup Agung Chicago, salah satu keuskupan terbesar di Amerika Utara.
Salah satu aspek menarik dari sosok Paus Leo XIV adalah kedekatannya dengan Amerika Latin. Memiliki kewarganegaraan ganda (AS dan Peru), ia pernah menjabat sebagai Uskup Chiclayo di Peru (2015–2023) dan aktif di Komisi Kepausan untuk Amerika Latin, wilayah yang menjadi rumah bagi hampir 40% umat Katolik global.
Pengalamannya di kawasan ini dinilai strategis, mengingat Gereja Katolik tengah menghadapi berbagai tantangan, termasuk penurunan jumlah umat di Eropa dan pertumbuhan gereja evangelikal di Amerika Latin.
Asap putih keluar dari cerobong Kapel Sistina tanda Paus baru terpilih.
- Media Vatikan
Conclave yang Mencerminkan Perubahan Wajah Gereja
Proses pemilihan Paus kali ini mencerminkan pergeseran demografi dalam Gereja Katolik. Mayoritas kardinal yang memilih berasal dari global south atau negara-negara berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Hal ini sejalan dengan tren di mana pusat gravitasi umat Katolik semakin bergeser dari Eropa ke wilayah lain.
Harapan untuk Kepemimpinan Baru
Sebagai mantan prefek Dikasteri untuk Para Uskup, Paus Leo XIV diyakini memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika internal Gereja. Di tengah berbagai isu seperti reformasi kuria, skandal finansial, dan perdebatan teologis, umat Katolik dunia menantikan apakah kepemimpinannya akan melanjutkan garis progresif Paus Fransiskus atau membawa pendekatan yang berbeda.