Asap Merah Jambu: Konklaf dan Seruan Perubahan
- Media Vatikan
NTT ViVa – Lebih dari 130 kardinal Katolik kini terkunci di dalam Kapel Sistina , memulai sebuah ritus yang tak berubah selama berabad-abad untuk memilih pemimpin tertinggi Gereja Katolik . Di tengah keheningan, “ Litani Para Kudus ” menggema, menaungi ruangan yang dipenuhi fresko agung karya Michelangelo. Di luar, dunia memandang satu titik harapan: cerobong asap kecil di atap Sistina. Apakah akan hitam atau putih?
Namun pada Rabu malam, muncul warna lain: asap merah jambu, bukan dari cerobong asap, tapi dari bukit kecil di belakang Vatikan. Sekelompok perempuan dari Konferensi Penahbisan Wanita menyalakan suar merah jambu sebagai bentuk protes atas ketidakhadiran perempuan dalam pengambilan keputusan di jantung Gereja Katolik.
“Dunia mungkin menunggu asap putih atau hitam,” kata Kate McElwee, pemimpin aksi tersebut, “tapi asap merah jambu kami adalah sinyal bahwa perempuan harus dilibatkan dalam semua aspek kehidupan Gereja.”
Simbol ini bukan sekedar warna. Ia adalah pesan: bahwa Gereja tidak bisa lagi menutup mata terhadap suara setengah dari umatnya.
Representasi Tanpa Perwakilan
Konklaf kali ini adalah yang paling beragam dalam sejarah 2.000 tahun Gereja Katolik. Dari 133 kardinal yang memberikan suara, sebagian besar kini berasal dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin — mencerminkan pertumbuhan Gereja di belahan dunia selatan. Namun keanekaragaman geografis tidak serta merta menjamin representasi yang inklusif.
Tidak satu kata pun dari para pemilih itu adalah perempuan. Dalam masyarakat yang terus berkembang menuju kesetaraan dan keterbukaan, sistematis eksklusi ini semakin sulit dipertahankan. Di luar Kapel Sistina, umat — laki-laki dan perempuan — menyampaikan harapan mereka dalam berbagai cara. Ada yang menyanyikan himne, ada yang berdoa bersama, dan ada yang menyalakan suar merah jambu.
Ketegangan Tradisi dan Zaman
Seperti asap yang mengepul dari pembakaran surat suara, konklaf adalah simbol kebingungan Gereja antara tradisi dan transformasi. Di satu sisi, ia memegang erat upacara yang menjunjung kerahasiaan, kesakralan, dan kesinambungan; Di sisi lain, umat di seluruh dunia menyaksikan dengan cemas, berharap akan lahir pemimpin yang tidak hanya saleh, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.
Paus Fransiskus sendiri — yang segera akan digantikan — telah membuka banyak pintu dialog, khususnya dalam hal inklusivitas dan keadilan sosial. Namun langkah-langkah tersebut masih diliputi batasan struktural yang dalam banyak hal masih menutup perempuan dari ruang-ruang pengambilan keputusan.
Padahal, sejarah Gereja penuh dengan sosok perempuan yang menjadi pembaru, pelindung, dan martir iman: dari Santa Katarina dari Siena hingga Santa Teresa dari Avila. Jika perempuan dapat menjadi santo dan doktor Gereja, mengapa mereka tidak dapat memiliki suara dalam pemilihan pemimpin tertinggi?
Simbol dan Transisi
Menarik bahwa kali ini, penjahit legendaris Gammarelli — yang selama enam generasi menjahit jubah paus — tidak diminta membuat jubah baru. Vatikan kabarnya memilih penjahit lain, atau bahkan menggunakan jubah yang sudah tersedia.
Ini mungkin hanya urusan kain, tetapi dalam konteks Vatikan yang sangat simbolis, ini bisa mencerminkan adanya ketegangan — atau mungkin kehendak diam-diam — untuk beralih dari pakem lama.
Simbol kecil, tetapi sarat pesan: mungkin Gereja sedang berada di titik transisi yang lebih dalam.
Menggugat Ketidakhadiran
Dalam sebuah laporan BBC tahun lalu, disebutkan bahwa hampir 80 persen aktivitas pastoral dan sosial Gereja Katolik di dunia dilakukan oleh perempuan. Mereka adalah biarawati, pengajar, perawat, misionaris, pekerja sosial, dan ibu-ibu paroki. Namun sejauh ini, mereka tetap tak memiliki suara dalam pemilihan struktural Gereja.
Seruan akan perubahan bukan hanya datang dari Barat yang sekuler. Di komunitas-komunitas Katolik di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, tuntutan agar Gereja menjadi lebih terbuka terhadap realitas sosial semakin kuat. Bahkan di daerah miskin Manila, umat berkumpul dan berdoa agar paus baru peduli pada kaum tertindas, pada perempuan, dan pada generasi muda. Jika suara umat diabaikan, Gereja berisiko kehilangan relevansinya.
Menuju Kepemimpinan yang Relevan
Pemilihan paus baru bukan hanya soal memilih seorang pemimpin rohani. Ini adalah momen untuk menentukan arah Gereja dalam beberapa dekade ke depan. Dunia menghadapi polarisasi, kemiskinan, krisis iklim, dan krisis moral — dan Gereja Katolik, sebagai institusi global, memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan penyembuh.
Namun itu hanya bisa terjadi jika pemimpinnya mampu mendengar. Mampu membuka jendela-jendela Kapel Sistina kepada dunia yang berubah — dan mungkin, suatu hari nanti, membuka pintunya untuk semua orang, termasuk perempuan.
Doa dan Tuntutan
Sementara pemungutan suara berlanjut di balik dinding marmer, umat di luar tetap menunggu — sebagian dengan rosario, sebagian dengan suar merah jambu. Ada harapan, ada doa, dan ada desakan.
Gereja, seperti yang ditulis Paus Yohanes XXIII, adalah “mater et magistra” — ibu dan guru. Maka sudah saatnya ia merangkul semua anaknya, mendengar semua suaranya, dan mengajarkan melalui keteladanan.
Asap putih mungkin akan segera mengepul dari cerobong Kapel Sistina. Tapi dunia juga menantikan sesuatu yang lebih dari sekedar warna: sebuah tanda bahwa Gereja tidak hanya memilih jeda, tetapi juga memilih masa sebelumnya.