Putra Pembe di Mahkamah Konstitusi
- ANTARA/ Bagus Ahmad Rizaldi
NTT VIVA– Dari Pembe yang jauh, sebuah kampung kecil di Manggarai Timur, NTT, lahirlah seorang anak lelaki. Anak seorang guru SD di pelosok, yang tumbuh dari tanah yang keras namun penuh kasih, di bawah atap rumah kayu yang menampung doa-doa sederhana.
Nama anak itu kini disebut di gedung megah Ibu Kota: Inosentius Samsul.
Pada 20 Agustus 2025, ia diketok palu DPR RI sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi menggantikan Arief Hidayat.
Sungguh, ini bukan sekadar kabar penempatan pejabat. Ini seperti kabar burung Manyar yang kembali dari perantauan, membawa ranting, daun dan rumput, untuk membangun sarang baru di dahan tinggi.
Inosentius atau Pa Sensi bagi orang kampungnya, bukan tiba-tiba tumbuh di pelataran DPR. Tiga puluh lima tahun ia berziarah dalam dunia legislasi, dari masa Ketua DPR Wahono (Orba) hingga Puan Maharani. Ia menjadi saksi denyut panjang parlemen, hingga dipercayakan sebagai Kepala Badan Keahlian DPR dan kini, Perancang UU Ahli Utama.
Akar Seorang Manusia Tidak Pernah Hilang
Ia dididik bukan hanya oleh sekolah-sekolah yang membawanya dari Manggarai hingga universitas, melainkan oleh tangan kasar seorang ayah dan ibu guru SD di Pembe. Dari merekalah ia menerima warisan Manggarai yang agung: “ Lalong bakok du lakom – Lalong rombeng du kolem.” Engkau pergi bagai ayam putih yang polos, engkau kembali bagai ayam warna-warni.
Pesan itu sederhana: pergilah belajar, berkelanalah merantau, lalu pulanglah membawa gelar, karakter, jabatan, juga berkat bagi orang banyak.
Maka, ketika Inosentius berkata bahwa MK bukanlah kamar kedua untuk menguji undang-undang, ia seakan ingin mengingatkan: hukum itu bukan sekadar prosedur, melainkan juga peradaban. Ia lahir dari akar budaya, dari nasihat orang tua di Pembe, dari pesan leluhur di kaki Gunung Poco Ndeki.
Kini, masyarakat Nuca Lale boleh menegakkan kepala. Seorang anak Manggarai Timur telah duduk di kursi agung hakim konstitusi.
Tetapi yang lebih penting: seorang anak kampung kembali membuktikan bahwa jalan pendidikan adalah jalan pembebasan.
Orang Manggarai selalu percaya: pendidikan adalah perahu yang membawa kita menyeberang dari keterasingan menuju kemerdekaan.