Rumpun Bambu, Ruang Belajar dan Ketangguhan Perempuan Wolowea

Kelompok ibu rumahtangga Desa Wolowea sedang memetik daun bambu untuk membuat Teh Bambu
Sumber :
  • Sevrin Waja

Nagekeo, NTT ViVa– “Hanya dalam kurun waktu dua bulan, 25 ibu rumah tangga Desa Wolowea membibit 40.000 anakan bambu, memperoleh penghasilan total Rp20 juta per orang, sambil menciptakan produk turunan yang mendukung lingkungan dan ekonomi keluarga.”

img_title Selamatkan Mata Air Ae Nio, NGO Gandeng Warga Tanam Pohon

Hari masih pagi ketika udara lembab sisa embun malam menggantung tipis di sela batang-batang bambu yang tumbuh rapat. Dari balik ufuk timur, sang surya perlahan menyingkapkan sinarnya, membangunkan kehidupan yang sempat terlelap. Burung-burung pipit, zebra finch, dan emprit haji keluar dari sarang, mengepakkan sayap, menaburkan kicau bening ke pagi yang masih lengang.

Kicauan yang bersahut-sahutan itu memecah keheningan, menjadi penanda dimulainya denyut aktivitas warga Kampung Wolowea, Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 6 Januari 2026. Pagi bergerak perlahan, seiring langkah-langkah kecil yang mulai menata hari, di bawah naungan alam yang setia menjaga ritmenya sendiri.

img_title BPIP dan Unika Santu Paulus Ruteng Bahas Model Pembelajaran Pancasila Bersama Komunitas

Di sepanjang bantaran kali, rumpun bambu tumbuh subur, menaungi sejumlah ibu rumah tangga yang mulai memetik daun-daun muda. Berbalut celemek, penutup kepala, dan sarung tangan, tangan-tangan terampil mereka bekerja dengan tenang memilih helaian hijau pucat yang tipis dan lentur, seakan tahu betul mana yang layak dipetik dan mana yang mesti ditinggalkan. 

"Setiap tangkai kita ambil hanya dua daun muda saja, hitung dari dari pucuk" ujar Raimunda Mogi (56) salah satu ibu rumah tangga.

img_title Pemkab Nagekeo Beri Pelatihan Kerajinan Bambu untuk 16 Milenial

Sambil bekerja, obrolan ringan mengalir, tawa kecil pecah di antara cerita pagi seakan menyatu dengan kicau burung dan gemericik bambu. Suasana terasa hangat dan hidup, sederhana namun penuh makna: pagi yang pelan-pelan bergerak, di mana alam dan kerja tangan bertemu dalam irama yang tenang.

Setelah semua wadah terisi penuh, daun bambu petung itu kemudian dikumpulkan dalam satu tempat untuk selanjutnya dicuci bersih menggunakan air mengalir. "Harus dicuci di air mengalir biar miang-nya bisa hilang total," ungkap Raimunda.

Kemasan produk Teh Bambu dan Sereal Sorgum hasil karya KWT Delima Desa Wolowea

Photo :
  • Sevrin Waja

Hari itu, sejumlah Ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Delima, Desa Wolowea berkumpul melaksanakan kegiatan rutin mereka yakni membuat teh bambu. Kegiatan dipusatkan di rumah milik Maria Akulina Ito (45) yang juga merupakan Sekretaris kelompok. 

Halaman Selanjutnya
img_title