Mekanisme Fight or Flight Saat Ketakutan, Apa Itu?

Reaksi ketakutan.
Sumber :
  • Unsplash

NTT ViVa– Ketika seseorang mengalami ketakutan berlebihan, tubuh memberikan reaksi fisiologis yang khas, salah satunya adalah wajah menjadi pucat. Hal ini terjadi karena respons tubuh terhadap situasi yang dianggap berbahaya atau mengancam, yang dikenal sebagai respons "fight or flight" (lawan atau lari) yang diatur oleh sistem saraf otonom, khususnya sistem saraf simpatis.

Berikut penjelasan rinci mengenai reaksi tubuh saat ketakutan berlebihan yang menyebabkan wajah pucat

Saat merasa takut, tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatis yang memicu pelepasan hormon adrenalin ke dalam aliran darah. Adrenalin ini mempersiapkan tubuh untuk menghadapi ancaman dengan meningkatkan detak jantung, mempercepat pernapasan, dan mengalihkan aliran darah ke otot-otot besar yang dibutuhkan untuk melawan atau melarikan diri.

Aliran darah yang biasanya mengalir ke kulit, termasuk wajah, dikurangi dan dialihkan ke bagian tubuh yang lebih penting dalam menghadapi bahaya, seperti kaki dan tangan. Pengalihan ini menyebabkan wajah kehilangan rona merahnya sehingga tampak pucat.

Selain wajah pucat, ketakutan berlebihan juga dapat menyebabkan gejala lain seperti mulut kering, keringat dingin, pupil melebar, detak jantung cepat, gemetar, sesak napas, dan pusing. Ini semua adalah bagian dari respons tubuh yang mempersiapkan diri menghadapi situasi stres atau bahaya.

Wajah yang pucat akibat ketakutan ini biasanya bersifat sementara dan akan kembali normal setelah situasi menakutkan berlalu dan tubuh kembali ke kondisi santai (mode parasimpatis).

Reaksi ini juga berkaitan dengan mekanisme tubuh untuk menghemat energi dan fokus pada fungsi vital yang diperlukan untuk bertahan hidup dalam situasi darurat, sehingga proses pencernaan dan aliran darah ke organ yang tidak esensial sementara waktu dikurangi.

Singkatnya, wajah pucat saat ketakutan berlebihan adalah akibat pengalihan aliran darah dari kulit wajah ke otot-otot yang lebih dibutuhkan untuk menghadapi ancaman, sebagai bagian dari respons "fight or flight" tubuh yang diatur oleh sistem saraf simpatis dan hormon adrenalin. Reaksi ini juga disertai dengan berbagai gejala fisik lain yang menandakan tubuh sedang dalam keadaan waspada dan siap bertindak.