Pick Me Culture: Ingin Diterima, Tapi Malah Kehilangan Diri Sendiri
- Pixabay.com
NTT ViVa– Dalam dunia yang semakin keras dan kompetitif, kebutuhan untuk diterima menjadi semakin besar. Di tengah tekanan sosial dan standar-standar yang kian tidak realistis, muncul sebuah fenomena yang mencolok: Pick Me Culture. Ini adalah istilah yang merujuk pada individu—baik perempuan maupun laki-laki—yang berusaha menarik perhatian atau validasi dengan merendahkan orang lain, atau dengan cara yang merugikan identitas dan harga dirinya sendiri.
Biasanya, sikap ini muncul dengan narasi seperti “Aku nggak kayak cewek/cowok lain”, “Aku beda karena aku lebih sederhana, lebih kalem, lebih setia,” dan seterusnya. Di permukaan, ini terdengar seperti bentuk keunikan. Namun jika diperhatikan lebih dalam, sering kali pernyataan itu tidak lahir dari kebanggaan diri, melainkan dari keinginan untuk diterima dalam standar orang lain—terutama standar yang patriarkal, toksik, atau manipulatif.
Fenomena ini banyak terjadi di media sosial. Unggahan yang menyindir kelompok tertentu, komentar merendahkan sesama jenis, atau sikap memamerkan “kesederhanaan” sambil menyindir orang yang dianggap terlalu menonjol—semuanya bagian dari upaya pick me. Sayangnya, ini bukan hanya soal perhatian, tapi juga tentang identitas yang dikorbankan demi validasi.
Pick me culture tumbuh subur karena banyak dari kita merasa nilai diri ditentukan oleh penerimaan orang lain. Kita diajarkan bahwa menjadi "berbeda" atau "berpenampilan rendah hati" adalah nilai tambah, meskipun untuk mencapainya kita harus merendahkan yang lain. Akibatnya, kita menciptakan versi diri palsu demi mendapatkan tempat di hati orang lain.
Yang lebih menyedihkan, orang-orang dalam pola ini sering tidak sadar bahwa mereka sedang kehilangan jati diri. Mereka mungkin merasa berhasil karena disukai, dipuji, atau dianggap "lebih baik" dari orang lain. Tapi dalam proses itu, mereka membentuk persona yang tidak otentik—dan hidup dalam kepura-puraan yang melelahkan.
Ingin diterima adalah hal manusiawi. Tapi jika itu dicapai dengan cara menjatuhkan sesama atau menyangkal nilai-nilai pribadi, maka penerimaan itu bersifat semu. Kita hanya disukai karena versi palsu dari diri kita—bukan karena siapa kita sebenarnya. Dan itu sangat rapuh.