Scroll, Like, Down: Mental Gen Z dan Media Sosial
- pixabay.com
Namun, bukan berarti media sosial hanya membawa dampak negatif. Banyak Gen Z yang justru menemukan ruang untuk berekspresi, belajar, membangun komunitas dukungan, bahkan menyuarakan isu-isu penting seperti kesehatan mental, perubahan iklim, atau keadilan sosial. Media sosial dapat menjadi alat pemberdayaan, selama digunakan secara sadar dan bijak.
Solusinya bukan sekadar "detoks digital", tetapi juga membangun kesadaran akan self-worth di luar layar. Pendidikan literasi digital dan literasi emosi perlu menjadi bagian dari sistem pendidikan formal dan keluarga. Gen Z perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, mengatur waktu layar (screen time), dan mengenali tanda-tanda kelelahan mental.
Membangun kesehatan mental di era serba daring bukanlah tugas individu semata. Dukungan dari orang tua, pendidik, pemerintah, hingga platform media sosial itu sendiri sangat penting. Fitur pengingat waktu pakai, filter konten negatif, dan promosi konten positif bisa menjadi bagian dari ekosistem yang lebih ramah bagi kesehatan mental.
Akhirnya, Gen Z harus diingatkan bahwa nilai diri tidak diukur dari jumlah like atau followers. Dunia nyata dengan segala kekurangannya adalah ruang hidup yang tak tergantikan. Belajar menikmati momen tanpa harus membagikannya ke publik, adalah bentuk kecil dari perlawanan terhadap tekanan digital yang tidak kasatmata. Dari scroll, like, hingga down, saatnya Gen Z naik kembali dengan sadar, kuat, dan utuh.