Dididik Layar, Disusui Algoritma
- pixabay.com
NTT ViVa– Di era serba digital ini, anak-anak tak lagi tumbuh dalam pelukan dongeng sebelum tidur atau permainan tradisional yang membentuk interaksi sosial. Mereka kini dididik oleh layar dan disusui oleh algoritma merupakan metafora untuk realitas baru yang memperlihatkan bagaimana generasi Alpha (anak-anak yang lahir sejak 2010) dibentuk oleh teknologi sejak usia dini.
Mulai dari YouTube Kids yang menjadi pengantar tidur, ChatGPT yang menjawab rasa ingin tahu mereka, hingga robot edukatif dan mainan interaktif, kehidupan anak-anak masa kini tak lepas dari dunia digital. Bahkan, sebelum bisa membaca atau menulis, banyak dari mereka sudah terbiasa mengucapkan "skip ad" atau menyentuh layar untuk berpindah video. Ini bukan lagi perkembangan, tetapi transformasi radikal cara anak-anak belajar, bermain, dan tumbuh.
Ketergantungan Digital Sejak Bayi
Laporan dari Common Sense Media (2023) menunjukkan bahwa anak-anak usia 0–8 tahun menghabiskan rata-rata hampir 2,5 jam per hari di depan layar. Ini meningkat drastis dibandingkan satu dekade lalu. Di satu sisi, teknologi memang bisa menjadi alat pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan. Namun di sisi lain, paparan berlebih terhadap layar dapat memengaruhi perkembangan otak, keterampilan sosial, hingga kesehatan mental anak.
AI Sebagai Pengasuh Baru
Fenomena ini memunculkan ironi: ketika orang tua semakin sibuk, AI menggantikan peran interaksi manusia. Anak-anak berbicara dengan asisten virtual, meminta cerita dari robot, dan belajar matematika dari aplikasi edukatif. Padahal, usia dini adalah masa emas untuk mengembangkan empati, komunikasi, dan kelekatan emosional dan hal-hal yang tak bisa diberikan oleh algoritma.
Sebuah studi dari Journal of Pediatrics mencatat bahwa anak yang terlalu sering menggunakan perangkat digital cenderung mengalami keterlambatan bicara dan kesulitan membangun relasi sosial. Apalagi, algoritma tidak netral, ia hanya menyodorkan apa yang menarik, bukan yang benar atau sehat. Hal ini bisa membentuk pola pikir konsumtif dan instan sejak dini.
Kecerdasan yang Tidak Seimbang
Anak-anak generasi Alpha mungkin cerdas secara digital, tetapi belum tentu matang secara emosional atau sosial. Mereka bisa mengoperasikan aplikasi, tetapi belum tentu bisa mengatur emosi atau menyelesaikan konflik secara sehat. Ketika algoritma mengatur apa yang mereka tonton, mainkan, dan baca, ruang eksplorasi alami menjadi sempit. Anak-anak kehilangan kesempatan untuk bosan padahal dari kebosananlah kreativitas tumbuh.