Jokowi Dinobatkan Jadi Raja Timor, 9 Raja Kalungkan Kain Adat
- Ist
Kupang, NTT ViVa– Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo dinobatkan sebagai Raja Timor dalam rangkaian Karnaval Budaya yang digelar di Kelurahan Lai-Lai Besi Kopan (LLBK), Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 1 Agustus 2026. Penobatan yang disaksikan ribuan warga itu dipimpin langsung oleh para raja adat se-Pulau Timor sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada mantan kepala negara tersebut.
Gelar kehormatan adat tersebut diserahkan dalam suasana khidmat, ditandai dengan penyerahan kain kebesaran adat kepada Jokowi oleh para raja yang memiliki wilayah kerajaan di Pulau Timor. Lewat prosesi itu, Jokowi secara simbolis diangkat sebagai bagian dari keluarga besar kerajaan-kerajaan di pulau tersebut.
Sembilan Raja Kalungkan Kain Adat
Sembilan raja dari berbagai kerajaan di Pulau Timor hadir untuk mengalungkan kain adat kepada Jokowi. Mereka antara lain Raja Kerajaan Amanatun Jonatan Banunaek, Raja Kerajaan Amanuban M. Nope, Raja Kerajaan Mollo James Sonbai, Raja Kerajaan Biboki Charles Usboko, Raja Kerajaan Bikomi Aloysius Lake, Raja Amfoang, Raja Kerajaan Kupang Nisnoni, Raja Amarasi, dan Raja Kerajaan Malaka.
Raja Amanuban, M. Nope, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Jokowi terhadap pembangunan di NTT selama menjabat sebagai presiden.
“Banyak yang sudah Bapak perbuat,” ucapnya saat mengalungkan kain adat, seraya menambahkan doa agar Jokowi senantiasa disertai dalam perjalanan ke depan.
Prosesi penobatan turut dimeriahkan oleh sejumlah kesenian tradisional khas NTT, termasuk Tari Caci dan Tari Bonet yang berasal dari Manggarai.
Bagian dari Kunjungan Tiga Hari ke NTT
Penobatan sebagai Raja Timor merupakan salah satu agenda dalam kunjungan tiga hari Jokowi ke NTT. Sebelum menghadiri prosesi adat tersebut, ia mengikuti kegiatan Car Free Day di Kota Kupang, menyapa warga dan petani rumput laut di Pantai Oesina, Kecamatan Kupang Barat, serta menghadiri Rapat Koordinasi Daerah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi NTT.
Sekretaris DPW PSI NTT, Junaidin Mahasan, sebelumnya membenarkan bahwa penobatan tersebut merupakan undangan langsung dari para raja di Pulau Timor dan digelar berdampingan dengan Karnaval Budaya yang diperkirakan dihadiri sekitar lima ribu hingga sepuluh ribu warga.