Muda-Mudi Manggarai, Kenali Jenis Perkawinan Adatmu!
- Jo Kenaru
Manggarai, NTT VIVA – Sebagai generasi penerus, muda-mudi Manggarai penting untuk memahami tradisi dan budaya leluhur. Salah satunya adalah jenis perkawinan adat.
Tujuan perkawinan adat Manggarai tercermin dalam beberapa ungkapan berikut :
Pertama, masyarakat Manggarai mengungkapkan "Kudut beka weki one, beka salang pe,ang" yang artinya mencari keturunan.
Kedua, perkawinan adat Manggarai juga bertujuan untuk mempererat jalinan kekerabatan antar keluarga besar.
Ketiga, tujuan perkawinan adat Manggarai adalah untuk membawa kebahagiaan bagi pasangan yang menikah. Hal ini tercermin dalam pernyataan "Kudut ita le mose di'a ise wina agu rona" yang berarti agar suami dan istri hidup bahagia dan sejahtera, tak terpisahkan, dan menyatu secara abadi.
Drama acara masuk minta dalam budaya Manggarai di SMPN 5 Wae Ri
- Jo Kenaru
Perkawinan Adat Manggarai: Tradisi dan Makna
Dalam budaya Manggarai, sebagaimana ditulis oleh Kanisius Teobaldus Deki, bahwa perkawinan tidak hanya menjadi urusan privat dua individu, tetapi juga dua keluarga besar dari kelompok masyarakat yang berbeda.
Ada tiga bentuk perkawinan adat yang berlaku di tanah "Nucalale", yaitu Cangkang, Tungku, dan Cako.
Perkawinan Cangkang
Perkawinan Cangkang bertujuan membentuk kekerabatan baru dan memperluas hubungan kekeluargaan. Perkawinan ini terjadi antar kampung atau antar ke-dalu-an, asal tidak terjadi dengan pihak yang diharamkan atau tidak dengan pihak yang seketurunan.
Perkawinan Tungku
Perkawinan Tungku bertujuan melestarikan hubungan kekeluargaan yang telah terbentuk sejak lama.
Perkawinan tungku menurut tradisi Manggarai bermacam-macam. Ada perkawinan tungku cu atau disebut juga tungku dungka. Perkawinan antara anak laki-laki dari saudari dengan anak gadis dari saudara.
Namun perlu diketahui, perkawinan jenis ini sangat dilarang oleh Gereja Katolik di Manggarai. Dalam gereja Katolik, perkawinan akan dikatakan sah apabila pasangan telah memenuhi tiga syarat, yaitu: bebas dari halangan kanonik, adanya consensus atau kesepakatan perkawinan, dan harus dirayakan dalam forma cannonica atau peneguhan nikah.
Ada beberapa jenis perkawinan tungku, seperti Tungku Cu, Tungku Sa'i, dan Tungku Sanggot.
Perkawinan Cako
Perkawinan Cako sebenarnya masih berhubungan dengan Tungku. Perkawinan ini baru dapat terjadi setelah lima generasi keturunan dan didahului oleh upacara Baro Kamping Morin.