Cakatinding Dipanggil Pulang, dari Ladang ke Pariwisata
- Ist
Manggarai Barat, NTT ViVa–Bunyi bambu pengusir kera dan babi hutan itu lama sunyi. Kini, di tengah riuh pariwisata Labuan Bajo, ia dihidupkan lagi lewat bangku sekolah.
Dulu, di ladang-ladang Manggarai, Cakatinding hanyalah bunyi-bunyian. Petani memainkannya supaya kera dan babi hutan tahu ada manusia di sana, lalu menyingkir. Alat musik bambu itu kemudian lama tak terdengar. Sekarang ia dipanggil pulang dan disiapkan menjadi suguhan budaya bagi wisatawan yang berdatangan ke Labuan Bajo.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, lewat Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan (Disparekrafbud), mendorong musik tradisional bambu ikut memperkuat industri pariwisatanya. Wujudnya adalah pelatihan musik tradisional Manggarai bagi perwakilan siswa SMA se-Manggarai Barat, dengan Felix Edon sebagai narasumber utama.
Pelatihan ini bagian dari strategi pariwisata berbasis budaya. Sasarannya Cakatinding, yang juga dikenal sebagai Mbetung atau Tinding. Musik bambu ini dinilai punya nilai jual sebagai atraksi autentik dan memperkaya khazanah budaya unggulan pariwisata Labuan Bajo, juga Manggarai Raya pada umumnya.
Felix, maestro musik tradisional Manggarai, menyambut langkah itu dengan hangat. Menurut dia, ikhtiar Pemkab Mabar berdampak baik karena menempatkan budaya lokal di ruang industri wisata yang tumbuh pesat.
“Ini upaya yang sangat baik, untuk bisa menghidupkan kembali identitas budaya lokal kita di tengah industri pariwisata yang semakin pesat,” kata Felix, melansir InfoMabar, Senin, 12 Oktober 2026.
Felix menuturkan, Cakatinding sudah lama hidup di tengah masyarakat Manggarai. Namun kedudukannya kini sudah berbeda. Bisa disandingkan dengan alat musik modern.
“Cakatinding sudah bisa berkolaborasi dengan suling, juk, gendang, gong, biola, bahkan bass gitar, gitar akustik, dan kajon. Alat ini sudah masuk dalam kelompok alat musik pertunjukan,” ujarnya di hadapan para peserta.
Perjalanan panjang itu ia runut hingga puncaknya pada 21 Oktober 2022, ketika Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan Cakatinding sebagai Warisan Budaya Takbenda nasional. Tonggak-tonggaknya dirangkum pada kotak di akhir tulisan.
Budaya sebagai Jiwa
Kepala Bidang Budaya Disparekrafbud Mabar, Fransiskus Selmas, sejalan dengan Felix. Baginya, pengembangan musik bambu tidak berhenti pada pelestarian warisan leluhur, tetapi juga meneguhkan identitas daerah sebagai daya tarik wisata.