Geothermal Indonesia: Antara Api yang Menyala dan Nurani yang Bertanya

PLTP Ulumbu di Manggarai Flores
Sumber :
  • Dok. PLN

Ekonom melihatnya sebagai investasi jangka panjang yang menjanjikan. Dalam jangka pendek memang mahal – pengeboran eksplorasi bisa menghabiskan puluhan juta dolar – tetapi biaya operasionalnya rendah dan ramah lingkungan. Bahkan dalam Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2022, pemerintah telah menetapkan skema harga jual listrik dari panas bumi yang lebih fleksibel, untuk menarik investor swasta. Proyek-proyek seperti Ulubelu di Lampung atau Lahendong di Sulawesi Utara menjadi bukti bahwa geothermal bisa berkontribusi nyata.

img_title Suara Masyarakat Adat Poco Leok: Tolak Geothermal, Tolak Diskusi Publik Unika Santu Paulus Ruteng

Lebih jauh, dalam konteks geopolitik energi, geothermal memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang tidak bergantung pada impor energi. Di tengah krisis global seperti perang Rusia-Ukraina yang mengguncang pasokan energi Eropa, energi domestik seperti geothermal menjadi penopang stabilitas nasional.

Kontra: Luka Sosial di Balik Energi Hijau

img_title ICRES Gelar Webinar Proses Pengembangan Panas Bumi, Hadirkan Praktisi dan Pakar Geothermal Nasional

Namun apakah semua itu cukup untuk menutup mata dari jerit sunyi masyarakat adat dan komunitas lokal? Geothermal, bagaimanapun, bukan proyek tanpa dampak. Banyak konflik bermula dari tumpang tindih klaim lahan antara negara, korporasi, dan masyarakat. Di Flores, proyek panas bumi di Poco Leok, Manggarai, memantik gelombang penolakan. Bukan karena warga anti kemajuan, tetapi karena mereka merasa tak didengar.

Proyek sering kali dimulai tanpa kajian sosial mendalam, tanpa dialog sejajar, apalagi persetujuan bebas, didahului, dan diinformasikan (FPIC) yang seharusnya menjadi prinsip dasar dalam pembangunan berkeadilan. Masyarakat merasa tanah ulayat mereka dipatok, hutan adat dibongkar, dan ruang hidup direnggut oleh bor-bor raksasa yang datang tanpa permisi.

img_title Ramai-ramai Tolak Geotermal! Fraksi Gerindra Nagekeo Minta Pemda Buat Kajian Dampak Lingkungan

Tak hanya itu, kekhawatiran akan pencemaran, gangguan air tanah, serta risiko gempa kecil akibat aktivitas geotermal menjadi alasan kecemasan. Kajian lingkungan sering terasa normatif dan dokumen Amdal menjadi sekadar formalitas. Ketika pembangunan hanya dimaknai sebagai deret angka investasi, maka nilai-nilai lokal, spiritualitas ruang, dan relasi ekologis masyarakat terabaikan.

Menuju Energi yang Tidak Hanya Bersih, Tetapi juga Adil

Apakah mungkin membangun energi hijau tanpa mengorbankan manusia? Itulah pertanyaan hakiki yang menghantui geothermal di Indonesia. Argumentasi atas geothermal seharusnya tidak berhenti pada efisiensi teknis dan angka emisi. Harus ada dimensi etis dan filosofis yang menyertai.

Halaman Selanjutnya
img_title